SMARTPEKANBARU – Masyarakat Asia kini menempatkan kualitas hidup dan kemandirian finansial sebagai prioritas utama saat memasuki usia lanjut. Temuan ini muncul dalam Laporan Asia Financial Resilience and Longevity 2025 yang dirilis Manulife Wealth & Asset Management (Manulife WAM). Laporan yang mencakup Hong Kong, Malaysia, Indonesia, dan Filipina ini menyoroti perubahan cara pandang terhadap masa pensiun di tengah meningkatnya harapan hidup di kawasan. Calvin Chiu, Head of Asia Retirement, Manulife sekaligus Chief Executive Officer Manulife Investment Management Hong Kong, mengatakan peningkatan usia harapan hidup harus disertai kualitas hidup yang lebih baik.
“Usia panjang mengubah cara masyarakat Asia memandang pensiun. Kini, pensiun bukan sekadar hidup lebih lama, tetapi hidup lebih baik. Kemandirian finansial, kesehatan, dan kesejahteraan menjadi tolok ukur kesuksesan di era baru ini,” ujarnya, dalam laporan Manulife, dikutip Rabu, (19/11/2025).
Kualitas Hidup Jadi Tolok Ukur Baru Laporan menunjukkan mayoritas responden lebih mengutamakan hidup bermakna ketimbang usia panjang tanpa memperhatikan kondisi kesehatan. Hanya kurang dari satu dari sepuluh responden yang ingin hidup lebih lama tanpa mempertimbangkan kualitas hidup.
Lebih dari sepertiga responden juga tidak ingin menjadi beban bagi orang lain. Mereka membayangkan masa tua yang mandiri, baik secara finansial maupun secara fisik dan mental. Di keempat negara, tiga perempat responden menyatakan kesejahteraan finansial sangat memengaruhi kesehatan mereka. Sebanyak 85 persen juga menilai stabilitas finansial berdampak langsung pada kondisi mental saat pensiun. “Orang Asia ingin menikmati usia panjang dengan martabat, tujuan, dan kebebasan,” tambah Chiu. “Hal itu membutuhkan perubahan pola pikir, dari sekadar menabung untuk pensiun menjadi merencanakan untuk masa hidup panjang.”
Tingkat Kepercayaan Finansial Masih Beragam Meski kesadaran meningkat, keyakinan memiliki dana pensiun yang cukup belum merata. Tingkat kepercayaan responden berbeda di masing-masing negara, yakni 48 persen di Hong Kong, 58 persen di Malaysia, 77 persen di Indonesia, dan 52 persen di Filipina. Generasi paruh baya berusia 45–54 tahun merupakan kelompok paling pesimis, menandakan perlunya perencanaan finansial yang lebih proaktif. Di sisi lain, portofolio masyarakat Asia masih didominasi uang tunai yang mencapai sekitar setengah dari investasi non-properti. Sikap hati-hati dan minimnya pengetahuan investasi membuat banyak orang enggan mengambil instrumen berimbal hasil lebih tinggi.
Sementara itu, properti yang selama ini dianggap pilar utama pensiun mulai kehilangan dominansi, dengan hanya tiga dari sepuluh yang masih mengandalkannya sebagai aset utama. “Menahan terlalu banyak uang tunai dan hanya mengandalkan properti membuat orang rentan terhadap inflasi dan kekurangan pendapatan,” kata Chiu. “Ketahanan finansial harus dibangun melalui diversifikasi aset yang menghasilkan pendapatan dan tahan inflasi, dan dilakukan sedini mungkin.”
Peran Perencana Keuangan Makin Penting Laporan juga mencatat hubungan kuat antara nasihat profesional dan rasa percaya diri dalam merencanakan masa pensiun. Di Indonesia, 89 persen responden yang menggunakan jasa perencana keuangan merasa siap secara finansial, dibanding 63 persen yang tidak. Di Hong Kong, kesenjangan ini lebih besar, yakni 62 persen berbanding 29 persen. “Saran dari profesional bisa membuat perbedaan besar,” ujar Chiu. “Dengan bimbingan yang tepat, orang dapat beralih dari sekadar menabung menjadi berinvestasi aktif sehingga memiliki kendali lebih atas pendapatan dan gaya hidup di masa depan.”
Pergeseran Pola Pikir di Empat Negara Di Hong Kong, meski hanya 48 persen yakin dengan kondisi finansial mereka, sebanyak 65 persen berencana mengalihkan sebagian uang tunai ke instrumen berimbal hasil lebih tinggi. Malaysia menunjukkan minat kuat pada solusi pensiun berpendapatan stabil dan terlindungi dari inflasi. Indonesia menjadi pasar paling percaya diri dengan 77 persen responden merasa memiliki tabungan cukup, serta 69 persen lebih terbuka pada investasi berpendapatan dibanding properti. Filipina memperlihatkan pergeseran serupa, dengan 73 persen responden kini lebih memilih investasi yang menghasilkan pendapatan.
Laporan ini juga menemukan konsistensi lintas generasi. Baik kelompok muda, paruh baya, maupun lansia menempatkan pensiun bebas kerja sebagai prioritas utama. Keinginan ini paling kuat pada responden usia 25–34 tahun (55 persen) dan 60 tahun ke atas (58 persen). Sementara kelompok 45–59 tahun memiliki prioritas lebih beragam, termasuk kombinasi bekerja dan menjaga keseimbangan hidup.
Manulife WAM mendorong pembaruan pola pikir dan strategi pensiun di Asia, termasuk merencanakan finansial sejak dini, menyeimbangkan portofolio, serta memaksimalkan bimbingan profesional.
“Kehidupan yang panjang seharusnya menjadi sumber optimisme, bukan kecemasan,” tutup Chiu. “Dengan kebiasaan finansial yang tepat dan bimbingan yang baik, masyarakat dapat mengubah hidup yang lebih panjang menjadi hidup yang lebih baik, itulah visi yang mendorong kami di Manulife.”
Sumber : Kompas.com
