SMARTPEKANBARU – Prospek kinerja sektor kesehatan di pasar modal Tanah Air dinilai tetap solid, meski pemerintah berencana menyesuaikan iuran BPJS Kesehatan untuk peserta non-subsidi pada tahun anggaran 2026. Penyesuaian itu muncul setelah adanya proyeksi defisit pendanaan BPJS Kesehatan sebesar Rp 7,5 triliun di 2025, sehingga pemerintah dinilai perlu menyelaraskan iuran untuk menutup kekurangan pendanaan saat ini. Berdasarkan rancangan kebijakan, iuran peserta non-subsidi diperkirakan naik menjadi Rp 50.000-Rp 55.000 per bulan dari sekitar Rp 42.000 saat ini.
Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan kebijakan tersebut akan meningkatkan kemampuan BPJS dalam membayar klaim secara tepat waktu, sehingga memperbaiki arus kas rumah sakit yang selama ini menjadi isu utama.
“Sehingga iuran lebih sesuai dengan biaya layanan kesehatan sebenarnya dan mempercepat pembayaran klaim kepada rumah sakit,” ujar Herditya kepada Kompas.com, Kamis (20/11/2025).
Selain penyesuaian iuran, pemerintah akan mengimplementasikan penuh Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) di tahun depan, dengan sistem tarif berbasis Indonesian Diagnosis Related Groups (IDRG) atau sistem klasifikasi dan pengelompokan kasus pasien yang digunakan untuk menentukan tarif pelayanan kesehatan. Skema baru tersebut diproyeksikan menguntungkan operator rumah sakit besar yang memiliki efisiensi operasional lebih tinggi. “KRIS akan sepenuhnya diterapkan pada tahun anggaran 2026 dengan penggunaan tarif berbasis IDRG, yang cenderung menguntungkan grup rumah sakit besar karena memiliki biaya operasional lebih efisien,” paparnya.
Dengan penerapan KRIS, normalisasi iuran BPJS Kesehatan, serta peningkatan trafik pasien, pertumbuhan industri diproyeksikan mencapai sekitar 6 persen secara tahunan pada 2026, sementara operator rumah sakit besar diperkirakan mampu membukukan pertumbuhan pendapatan lebih dari 10 persen per tahun. Di tengah dinamika itu, sektor kesehatan tetap dipertahankan dalam rekomendasi Overweight. Sejak 2023, lanjut Herditya, kinerja operator rumah sakit menunjukkan pertumbuhan yang stabil, ditopang oleh permintaan layanan yang terus meningkat dan strategi ekspansi yang terukur.
Dengan dukungan regulasi dan perbaikan sistem pembiayaan kesehatan nasional, emiten rumah sakit dinilai memiliki peluang untuk memperkuat posisi pasar dan mempertahankan momentum pertumbuhan. “Kami mempertahankan rekomendasi Overweight untuk sektor kesehatan. Kami melihat adanya potensi bagi operator rumah sakit untuk memperkuat posisi pasar mereka, didukung oleh kinerja yang solid sejak tahun 2023,” katanya. Untuk diketahui, terdapat 38 emiten dalam indeks sektor kesehatan (IDXHEALTH). Mengutip Stockbit, pada sesi perdagangan Kamis siang ini, tepatnya pukul 14.00 WIB, beberapa saham farmasi, rumah sakit, dan layanan kesehatan mengalami penguatan, meski sebagian lainnya melemah atau stagnan.
Dari kelompok farmasi besar, saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) turun ke level 1.215 setelah melemah 1,22 persen. Sementara itu, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) justru menguat 0,91 persen ke level 555.
PT Kimia Farma Tbk (KAEF) bergerak stagnan di level 560, begitu pula PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) yang tidak mencatat perubahan harga di 525. Pada kelompok rumah sakit, PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) melemah 0,39 persen ke level 2.550. PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) turun lebih dalam sebesar 1,61 persen ke level 2.450. Sementara, PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) berada di level 1.435 tanpa perubahan. PT Cipta Sarana Medika Tbk (DKHH) turun 1,14 persen ke level 87. Emiten farmasi lainnya, PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) turun 0,35 persen ke level 2.830, sedangkan PT Indofarma Tbk (INAF) masih berada pada status suspensi di level 126. Saham PT Diastika Biotekindo Tbk (CHEK) turun tipis 0,54 persen ke level 183.
Dari segmen alat kesehatan, PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA) menguat 0,90 persen ke 448. Kenaikan signifikan terjadi pada PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME) yang melonjak 9,26 persen ke level 354. PT Maja Agung Latexindo Tbk (SURI) stagnan di level 99.
Di layanan laboratorium, PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) turun 0,41 persen ke 2.420. PT Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk (OBAT) berada di level 432 tanpa perubahan. PT Medela Potentia Tbk (MDLA) stagnan di 242. Emiten rumah sakit lainnya seperti PT Royal Prima Tbk (PRIM) naik 2,47 persen ke level 83. PT Haloni Jane Tbk (HALO) turun 0,91 persen ke level 109. PT Merck Tbk (MERK) melemah 0,65 persen ke level 3.080. PT Phapros Tbk (PEHA) turun 0,62 persen ke 322.
Sementara itu, PT Soho Global Health Tbk (SOHO) mencatat kenaikan kuat sebesar 9,96 persen ke 1.545. PT Hetzer Medical Indonesia Tbk (MEDS) stagnan di level 62. PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX) turun 1,59 persen ke 248. Dari sektor diagnostik, PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk (DGNS) tidak berubah di level 145. PT Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) menguat 0,60 persen ke 1.665. Saham besar di sektor rumah sakit PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) turun tajam 3,54 persen ke 13.625. PT Metro Healthcare Indonesia Tbk (CARE) turun tipis 0,56 persen ke 356. Sebaliknya, PT Bundamedik Tbk (BMHS) naik 1,31 persen ke 155. PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) turun ke 199 setelah melemah 0,50 persen.
Dari sisi emiten distribusi dan farmasi, PT Penta Valent Tbk (PEVE) stagnan di level 500. PT UBC Medical Indonesia Tbk (LABS) juga tidak berubah di 141. PT Charlie Hospital Semarang Tbk (RSCH) melemah 0,53 persen ke 376. PT Murni Sadar Tbk (MTMH) turun 0,44 persen ke 1.140.
Beberapa emiten masih dalam status suspensi, seperti PT Organon Pharma Indonesia Tbk (SCPI) yang berada di level 29.000 dan PT Kedoya Adyaraya Tbk (RSGK) di level 980. Sementara itu, PT Ikapharmindo Putramas Tbk (IKPM) menguat 0,85 persen ke 236. Sedangkan PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY) turun 0,59 persen ke 840.
Sumber : Kompas.com
