(Fiksi di Dunia Nyata)
Ditulis oleh : Rhr Dodi Sarjana

Namaku Amplop. Berwarna cokelat, tubuhku diselubungi map agar tampak resmi. Aku bukan amplop THR. Aku amplop… dengan misi rahasia.
Aku tidak lahir dari pabrik. Aku “dilahirkan” dari sebuah laci di meja seorang bupati. Tiba-tiba aku diisi, dilipat rapi, lalu ditutup dengan map.
“Tugasmu penting,” bisik tangan yang memegangku.
Jantung kertasku langsung berdebar. Ini kali pertama aku diajak “perjalanan dinas” ke Jakarta.
Misiku dimulai pada 2 Juni 2026. Tujuanku: sebuah kantor kementerian. Ruangannya dingin oleh AC, tetapi aku justru merasa berkeringat. Pertemuan berlangsung resmi dan terbuka, banyak orang berlalu-lalang. Lalu… pluk. Aku ditinggalkan di atas meja. Map masih menutupiku, seolah menjaga agar aku tidak tampak canggung.
Di kepalaku berputar banyak pertanyaan.
“Aku ini amplop atau kado ulang tahun yang tertinggal?”
Tak lama, datang seseorang berbaju safari berwarna krem. Di dadanya tersemat tulisan: “ajudan”. Ia menatapku. Aku pun—seandainya bisa—balas menatapnya. Kami sama-sama bingung.
Di dalam map, aku ber-monolog.
Inilah pergulatan batinku:
Jika aku dibuka, aku akan menjadi saksi.
Jika tidak dibuka, aku akan tetap menjadi “amplop misterius”.
Jika dikembalikan, berarti misiku gagal, tetapi reputasiku bersih.
Aku hanya amplop. Tidak tahu isi. Tidak berhak mengintip. Namun, deg-degannya luar biasa—seperti menunggu hasil audisi.
Sepuluh hari kemudian, aku kembali melakukan perjalanan. Kali ini menuju kantor kepolisian di daerah. Aku diantar menggunakan mobil dinas, lengkap dengan surat tugas dan tanda terima bermeterai. Statusku seolah naik kelas—dari “amplop tertinggal” menjadi “barang bukti yang tertib administrasi”.
Kalian tahu KPK? Ya, Komisi Pemberantasan Korupsi. Katanya mereka ingin mendalami “diriku”.
Aku hanya bisa pasrah.
“Pak, saya cuma kertas. Jangan digebuk saat pemeriksaan,” batinku.
Kini, aku sudah “pensiun”. Disimpan rapi bersama lembaran meterai. Dari semua perjalanan ini, aku punya filosofi sederhana:
- Jangan mau menjadi amplop yang ditinggalkan di meja orang.
- Jika map menutupimu, belum tentu kamu aman.
- Deg-degan itu wajar, asal bukan saat menyeberang jalan.
Pesanku untuk amplop-amplop muda di luar sana: jadilah amplop undangan pernikahan saja. Isinya doa, bukan drama.
*** (ds)
