SMARTPEKANBARU.COM – Menjalani program kehamilan (promil) demi mendapatkan buah hati kini memiliki opsi penunjang medis yang semakin populer, salah satunya melalui terapi akupunktur medik. Metode ini terbukti secara ilmiah mampu meningkatkan peluang keberhasilan bagi pasangan suami istri yang sedang berjuang mendapatkan garis dua.
Dalam gelar wicara bertajuk “Kupas Tuntas Akupunktur Medik dalam Mendukung Program Kehamilan” yang disiarkan oleh Halo Awal Bros, pakar spesialis akupunktur medik, dr. Rinesia Dwi Putri, M.Gizi, Sp.Ak, menjelaskan bahwa akupunktur medik memiliki landasan ilmiah yang berbeda dengan akupunktur tradisional.
“Akupunktur medik ini saat ini merupakan salah satu cabang ilmu kedokteran yang mana melakukan perangsangan pada titik-titik tertentu di permukaan tubuh berdasarkan ilmu biomedik dan jurnal-jurnal yang ada,” ujar dr. Rinesia.
Ia menambahkan bahwa terapi ini tidak hanya terbatas pada penggunaan jarum. Bagi pasien yang takut jarum, medis kini menyediakan alternatif modern seperti terapi laser, tanam benang, hingga ultrasound. Selain itu, seluruh tindakan dilakukan oleh dokter umum terlatih atau dokter spesialis akupunktur medik berdasarkan pemeriksaan klinis yang komprehensif, mulai dari anamnesa hingga pemeriksaan penunjang.
Peran Besar dalam Program Kehamilan
Dalam membantu program kehamilan, akupunktur medik bertindak sebagai pendamping atau terapi penunjang, baik untuk promil alami maupun promil berbantu seperti inseminasi dan In Vitro Fertilization (IVF) atau bayi tabung. Dr. Rinesia menyebutkan bahwa kontribusi terapi ini terhadap keberhasilan promil terbilang cukup signifikan.
“Perannya itu sekitar 30 sampai 50 persen angka keberhasilan akupunktur program hamil. Dan untuk program bayi tabung, dia menambah keberhasilan bayi tabung sekitar 10 sampai 20 persen,” jelasnya.
Secara mekanisme, stimulasi akupunktur bekerja dengan cara melancarkan aliran darah ke ovarium dan rahim, menyeimbangkan hormon, serta membantu meningkatkan kualitas sel telur pada wanita. Tidak hanya untuk wanita, akupunktur juga sangat bermanfaat bagi pria untuk meningkatkan kualitas serta kecepatan pergerakan sperma.
Terapi ini sangat disarankan bagi pasangan dengan kondisi unexplained infertility (kemandulan yang tidak diketahui penyebabnya), penderita PCOS (Polycystic Ovary Syndrome), hingga wanita dengan keluhan endometriosis atau nyeri haid yang hebat.
Saran dan Kedisiplinan Terapi
Untuk mendapatkan hasil yang optimal, dr. Rinesia menyarankan pasangan usia subur agar segera melakukan program sedini mungkin, terutama sebelum menginjak usia 35 tahun demi peluang keberhasilan yang lebih tinggi. Terapi idealnya dilakukan secara rutin sebanyak dua kali seminggu selama jangka waktu minimal 1,5 hingga 3 bulan. Hal ini mengikuti siklus alami pembentukan sel telur dan sperma yang memakan waktu sekitar 2 hingga 3 bulan.
Di akhir sesi, dr. Rinesia juga mengingatkan aspek penting yang sering terlewatkan oleh para pejuang garis dua, yaitu pentingnya mengenali masa subur dan mengelola stres.
“Yang penting sudah ditusuk-tusuk nih, jangan lupa berhubungan di masa subur. Beberapa pengalaman saya, pasangan-pasangan kita itu mereka tidak berhubungan di masa subur, jadi wajar belum hamil,” pesannya. Ia juga membagikan tips penutup, “Untuk pasangan usia subur pejuang garis dua itu harus tetap semangat ya, ikhtiar baik itu dengan pengobatan medis dokter spesialis obgyn… dan jangan lupa berdoa,” pungkasnya.
