SMARTPEKANBARU.COM – Sejalan dengan penetapan kelapa sebagai komoditas
prioritas hilirisasi perkebunan nasional dalam RPJMN 2025 2029, integrasi hulu dan hilir kelapa
berpotensi menjadi alternatif sumber pertumbuhan ekonomi baru Riau. Strateginya diarahkan
pada penguatan hulu melalui replanting, penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dan
bibit unggul; pengembangan kemitraan industri-petani melalui model inti-plasma; serta
peningkatan investasi dan dukungan infrastruktur. Hal ini menjadi kunci dalam
melipatgandakan pertumbuhan output kelapa Provinsi Riau, yang memiliki areal kelapa terluas di
Indonesia. Potensi tersebut terungkap dalam hasil kajian Kantor Perwakilan Bank Indonesia
(KPwBI) Provinsi Riau bersama Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB Universityyang dipaparkan
dalam acara The 3rd BEDELAU (Bincang Ekonomi & Diseminasi Dukung Akselerasi Ekonomi
Riau) 2026 bertema • Potensi Hilirisasi Kelapa bagi Perekonomian Riau yang Makin Beragam ·,
pada Rabu, 4 November 2026 di Aula Lancang Kuning, KPwBI Provinsi Riau.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau, Bpk. Panji Achmad, menyampaikan
bahwa sesuai dengan mandatnya, Bank Indonesia turut berkontribusi dalam mendukung
pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, termasuk melalui kajian komoditas unggulan daerah.
Setelah kajian sektor industri berbasis komoditas (2024) dan sawit rakyat (2025), tahun ini KPwBI
Provinsi Riau mengkaji kelapa, yang juga menjadi salah satu komoditas utama penopang
perekonomian Riau dan memiliki potensi besar untuk terus diakselerasi. Senada dengan hal
tersebut, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Riau – Bpk. Helmi
D., menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Riau menyambut baik dan mendukung kajian
ini sebagai masukan dalam perumusan kebijakan pengembangan kelapa di daerah.
Diseminasi ini menghadirkan tiga narasumber dari sisi akademisi, regulator, dan pelaku
usaha. Dr. Feryanto, S.P., M.Si., Ketua Tim Peneliti Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB
University, menyampaikan bahwa penguatan sektor hulu melalui peremajaan, bibit unggul, dan
Good Agricultural Practices (GAP), yang disertai peningkatan kapasitas industri pengolahan di sisi
hilir, merupakan strategi untuk mengoptimalkan keunggulan produksi kelapa Riau menjadi nilai
tambah lokal. Dari sisi regulasi, Agus Rosyid Wasingun, S.P., M.P., Ketua Tim Pengembangan
Kawasan Kelapa, Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, menegaskan
komitmen pemerintah dalam mempercepat hilirisasi kelapa sebagai komoditas prioritas nasional
dalam RPJMN 2025-2029, yang diwujudkan melalui alokasi peremajaan 12.000 hektare di
Kabupaten Indragiri Hilir, Pelalawan, dan Kepulauan Meranti pada 2026 dengan anggaran sekitar
Rp63,4 miliar, serta peluang tambahan alokasi pada 2027 melalui usulan daerah yang didukung
kesiapan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL). Sementara itu, Dr. KRA. H. T. Rusli Ahmad, S.E.,
M.M., Ketua DPD Asosiasi Petani Kelapa Indonesia (APKI) Provinsi Riau, menyampaikan bahwa
hampir seluruh bagian kelapa dapat diolah menjadi produk bernilai tambah, sehingga Riau
berpeluang menjadi pusat industri pengolahan kelapa yang terintegrasi melalui Gerakan Hilirisasi
Kelapa Riau 2026-2030 yang dilaksanakan secara bertahap.
Optimisme terhadap pengembangan kelapa tersebut didukung oleh basis produksi yang
kuat. Hasil kajian mencatat Riau sebagai provinsi dengan areal kelapa terluas di Indonesia,
yakni sekitar 440 ribu hektare, dengan kontribusi sekitar 11,39% terhadap produksi kelapa
nasional. Sebanyak 93,68% areal tersebut merupakan perkebunan rakyat yang melibatkan lebih
dari 162 ribu rumah tangga pekebun, sehingga pengembangan kelapa berpotensi memberikan
manfaat yang luas bagi masyarakat. Melalui kegiatan ini, para pemangku kepentingan
memandang penting komoditas kelapa untuk terus dikembangkan dan diharapkan dapat
menjadi alternatif sumber pertumbuhan ekonomi baru Provinsi Riau. Ke depan, KPwBI Provinsi
Riau akan terus bersinergi dengan pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha, akademisi, dan
perbankan untuk mendorong perekonomian Riau yang inklusif dan berkelanjutan.
