SMARTPEKANBARU.COM – Kegiatan ekskavasi yang dilakukan selama sepuluh hari di awal September 2025 di kawasan Candi Muara Takus mengungkap sejumlah temuan penting yang memperkaya pemahaman tentang sejarah situs bersejarah tersebut.
Ekskavasi ini merupakan bagian dari persiapan penataan kawasan candi yang dirancang oleh Kementerian PU, dan menjadi langkah awal untuk menjadikannya sebagai destinasi wisata unggulan.
Ekskavasi adalah proses penggalian tanah atau material dari bawah permukaan bumi untuk tujuan tertentu, seperti konstruksi, pertambangan, atau penelitian arkeologi.
Candi Muara Takus adalah situs candi Buddha kuno yang terletak di Kabupaten Kampar, Riau, dan diyakini sebagai peninggalan masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya.
Candi ini terletak di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, berjarak sekitar 135 kilometer dari Kota Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau.
Kompleks candi ini dikelilingi oleh tembok batu putih berukuran 74 x 74 meter dengan tinggi sekitar 80 cm. Di luar tembok tersebut, terdapat pula tembok tanah yang memperkuat struktur kawasan.
Fungsi utama candi ini diperkirakan sebagai tempat pemujaan dan kegiatan keagamaan umat Buddha pada abad 7 sampai abad 11 Masehi.
Menurut Pamong Budaya Ahli Muda Dinas Kebudayaan Riau, Muhammad Fajri, ekskavasi dilakukan atas dasar hasil pembacaan teknologi LiDAR oleh tim gabungan pada 2024.
Hasil pemindaian menunjukkan adanya gejala permukaan yang mencurigakan, yang kemudian diuji kebenarannya melalui penggalian langsung di lapangan.
“Ekskavasi ini merupakan program Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IV, bekerja sama dengan dosen dan mahasiswa Arkeologi Universitas Negeri Jambi, Dinas Kebudayaan Riau dan Pemerintah Kabupaten Kampar dibantu aparat desa, dan masyarakat setempat,” ujar Fajri, Senin (20/10/2025).
Salah satu temuan penting adalah dugaan struktur batu di sisi barat candi, sekitar 400 hingga 500 meter dari pusat candi.
Di lokasi tersebut, ditemukan susunan batu berlapis di tepi sungai serta parit kuno yang diperkirakan berfungsi sebagai saluran drainase.
“Selama ini, kita membuat parit buatan untuk mengalirkan air dari permukaan kawasan candi. Ternyata, nenek moyang kita sudah memiliki sistem drainase sendiri. Ini membuktikan bahwa peradaban kala itu sudah sangat memperhitungkan pengelolaan air agar struktur candi tidak tergenang,” ungkap Fajri.
Fungsi drainase ini menjadi penting, karena saat ini masih sering ditemukan genangan air yang berpotensi merusak struktur bangunan candi.
Oleh karena itu, temuan ini akan menjadi dasar untuk mengembalikan sistem pengairan sebagaimana aslinya.
“Parit-parit kuno itu bisa dikembalikan ke fungsi awalnya sebagai drainase. Selain menjaga keaslian kawasan juga berfungsi untuk pembuangan air di kawasan candi,” ujarnya
.Selain struktur parit kuno yang digunakan sebagai sistem pengairan, tim juga menemukan puluhan pecahan gerabah dan keramik di tanggul sebelah utara candi.
Berdasarkan analisis awal, artefak ini diperkirakan berasal dari masa Dinasti Tang (abad ke-7 hingga ke-9 Masehi).
Temuan ini membuktikan bahwa di Candi Muara Takus bukan hanya sebagai pusat ibadah saja, tetapi juga menjadi kawasan permukiman. Para biksu, pemuka agama kemungkinan tinggal di sekitar candi ini.
“Temuan ini menjadi bukti penting bahwa kawasan Candi Muara Takus ternyata tidak hanya sebagai tempat peribadatan umat Budha, tetapi juga pernah menjadi kompleks permukiman,” katanya.
Artefak yang ditemukan dalam kegiatan ekskavasi ini sementara waktu dibawa ke Jambi untuk pendokumentasian dan pengambilan gambar sebelum dimasukkan kedalam laporan.
Setelah laporan lengkap dan selesai dibuat artefak tersebut akan dikembalikan lagi ke Riau.
Sumber : Tribunpekanbaru.com
