SMARTPEKANBARU – Perum Bulog mengambil langkah untuk melindungi dan memberdayakan lebih dari 160.000 penggilingan padi skala kecil di Indonesia. Program ini akan diwujudkan melalui pembangunan 100 gudang baru hingga 2026, termasuk di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), yang berfungsi sebagai pusat ekosistem pascapanen terintegrasi. Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan, pihaknya tidak hanya membangun gudang, tetapi menciptakan ekosistem bisnis yang berkelanjutan.
“Gudang-gudang baru Bulog di sentra produksi akan dilengkapi dengan Rice Milling Unit (RMU) dan pengering (dryer) modern. Melalui skema pay-per-use, penggilingan kecil dan petani dapat mengakses teknologi ini tanpa terbebani biaya modal yang besar,” jelas Rizal dalam siaran pers, Kamis (20/11/2025).
Program ini menggunakan pendekatan triadic collaboration, yakni melibatkan Bulog, penggilingan/petani, dan investor swasta. Bulog bertindak sebagai penjamin pasar melalui offtake agreement, sementara pihak swasta menyediakan investasi teknologi. Model ini dirancang untuk memastikan keberlanjutan usaha dan stabilitas pasokan.
Pembangunan 100 gudang Bulog dengan investasi Rp 5 triliun ini diprioritaskan di daerah yang belum memiliki fasilitas memadai, termasuk wilayah 3T seperti Nias Selatan dan Morotai. Targetnya, gudang-gudang ini beroperasi sebelum musim panen raya 2026, memperkuat rantai pasok padi nasional dari hulu ke hilir.
Sementara itu, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menuturkan, penggilingan padi kecil adalah jantung ketahanan pangan nasional.
“Mereka yang menopang ketahanan pangan di level akar rumput tidak boleh tergilas oleh persaingan yang tidak sehat dan keterbatasan akses,” ungkap dia.
Menurut Amran, pemerintah berkomitmen melindungi pelaku usaha kecil melalui kebijakan yang berpihak.
Sumber: Kompas.com
