SMARTPEKANBARU.COM – India Open 2026 dapat sorotan buruk bukan karena permainan yang disuguhkan dalam gelaran berlabel super 750 tersebut. New Delhi yang jadi venue berlangsungnya India Open 2026 dikritik karena kondisi yang tidak layak untuk dijadikan tempat turnamen profesional.
Imbas kritik pedas kepada BWF terkait kondisi di India yang saat ini tengah berlangsung gelaran India Open 2026, muncul kekhawatiran untuk turnamen major mendatang yang dijadwalkan akan menggunakan New Delhi sebagai venue turnamen.
Ialah Kejuaraan Dunia BWF 2026 yang akan berlangsung pada bulan Agustus 2026 mendatang akan bergulir di New Delhi, India. Meski belum diketahui di mana venuenya, Anders Antonsen(Denmark) telah menyinggung soal turnamen tersebut.
Apalagi pemain tunggal putra peringkat 2 dunia Anders Antonsen, mengambil langkah yang lebih tegas dengan mengundurkan diri dari turnamen India Open 2026. Dan menariknya ia sudah tiga edisi beruntun memilih mundur dari India Open.

Ia beralasan bahwa kualitas udara di New Delhi sangat buruk. Indeks Kualitas Udara di sana mencapai angka 348, yang masuk dalam kategori berbahaya bagi kesehatan.
Seolah tak peduli dengan turnamen dengan kategori bergengsi (Super 750), kompatriot Viktor Axelsen itu menempatkan kesehatan sebagai prioritasnya mengingat kondisi di Indiayang mengkhawatirkan.
Tak masalah juga jika Antonsen harus membayar denda karena sebagai Top Committed Player yang memutuskan tidak ikut serta dalam gelaran super 750 tersebut.
“Banyak orang penasaran mengapa saya mengundurkan diri dari India Open selama tiga tahun berturut-turut. Akibatnya, BWF sekali lagi mendenda saya sebesar US$500 (Rp84.325.000 kurs saat ini),” ujar Antonsen lewat Instagram pribadinya, @anders_antonsen.
“Karena polusi yang ekstrem di Delhi saat ini, menurut saya ini bukan tempat yang cocok untuk mengadakan turnamen bulu tangkis.
“Saya berdoa semoga kondisinya akan lebih baik di musim panas saat Kejuaraan Dunia berlangsung di Delhi,” tegasnya sembari menyinggung bergulirnya Kejuaraan Dunia BWF.
Kekhawatiran dari Peserta IndiaOpen 2026
Kondisi yang kurang nyaman di turnamen India Open, yang diadakan di Indira Gandhi Sports Complex, membuat beberapa pemain top merasa khawatir.
Hal ini menjadi perhatian serius karena Kejuaraan Dunia juga akan diadakan di lokasi yang sama pada bulan Agustus mendatang.
Pemain tunggal putri peringkat 20 dunia, Mia Blichfeldt (Denmark), mengungkapkan rasa kecewanya terhadap kondisi area pemanasan yang buruk.
Sang atlet secara terang-terangan menyebut tempat tersebut kotor dan tidak layak bagi pemain yang bersiap bertanding di lapangan utama.
Pemain asal Denmark ini mengatakan bahwa ia sudah menyampaikan masalah ini tahun 2025 lalu, namun pihak penyelenggara dinilai belum melakukan banyak perbaikan.
“Saya sebenarnya berharap kondisinya akan lebih baik daripada aula yang satunya. Saya rasa tempat ini masih sangat kotor dan kondisinya benar-benar tidak sehat bagi semua pemain. Semua orang melakukan pemanasan dengan memakai celana dua lapis, jaket musim dingin, sarung tangan, dan topi,” ujarnya dilansir The Star.
“Ini bukan persiapan pemanasan yang baik bagi seorang pemain yang harus masuk ke lapangan dan bergerak cepat hingga melakukan gerakan split. Saya tahu semua orang sedang berusaha sebaik mungkin untuk memperbaiki kondisi bagi para pemain, tetapi saya rasa perjalanannya masih jauh.”
“Kemarin ketika saya datang ke lapangan pemanasan, ada burung-burung yang terbang di dalam dan meninggalkan kotoran di lapangan. Itu benar-benar tidak sehat dan tidak normal. Namun sekali lagi, saya yakin semua orang di asosiasi India dan para sukarelawan di sini sedang melakukan yang terbaik, jadi saya berharap kondisinya akan jauh lebih baik untuk Kejuaraan Dunia di musim panas nanti,” tambah Mia.
Oleh karena itu, Mia mendesak Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) dan Asosiasi Bulu Tangkis India (BAI) untuk menanggapi masalah ini dengan serius, karena kondisi saat ini menyulitkan pemain untuk tampil maksimal.
“Saya rasa tidak banyak atlet lain yang mau bermain di bawah kondisi seperti ini. Saya berharap semua orang yang terlibat dalam turnamen ini, pihak asosiasi, dan juga BWF akan memeriksa tempat ini karena ini adalah olahraga profesional. Jika pemain jatuh sakit atau cedera karena kondisi seperti ini, itu tidak adil,” pungkasnya.
Sumber : Tribunnews.com
