SMARTPEKANBARU – Perseteruan Amerika Serikat (AS) dengan Venezuela kian memanas usai Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, menjadi tahanan AS setelah ditangkap oleh pasukan Presiden AS Donald Trump dari ibu kota Venezuela, Caracas.
Konflik AS dan Venezuela, hubungan kedua negara itu memang telah mengalami pasang surut eskalasi cukup panjang sejak. Ketidakpercayaan AS kemudian meningkat pasca naiknya mantan Presiden sayap kiri Venezuela, Hugo Chavez pada tahun 1999.
Trump telah mendesak Maduro untuk menyerahkan kekuasaan dan menuduhnya mendukung kartel narkoba.
Trump menuduh Maduro dan kartel narkoba bertanggung jawab atas ribuan kematian warga AS yang terkait dengan penggunaan narkoba ilegal.
Lantas, apa kata para Menteri andalan Presiden Prabowo Subianto soal hal ini?
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengaku heran melihat aksi AS menyerang negara lain yang berdaulat yakni Venezuela.
“Hukum dunia agak aneh sekarang,” kata Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (5/1/2026).
Ia menilai, kondisi global saat ini menunjukkan lemahnya peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tercermin dari masih adanya negara yang dapat menyerang negara berdaulat lain tanpa pengawasan atau sanksi yang efektif, seolah dapat lolos dari mekanisme pengawasan internasional.
Dampak AS vs Venezuela
Purbaya mengatakan dar sisi dampak ke Indonesia, konflik tersebut berdampak terbatas, mengingat letak geografis antar dua negara yang cukup jauh. Terlebih, Venezuela pun tidak terlalu aktif dalam pasar minyak dunia karena keterbatasan kapasitas produksi.
“Itu kan jauh dari negara kita, Anda maunya apa? Apa yang dipersiapin? Jadi gini, artinya kita mesti selalu menjaga kekuatan kita, gitu aja. (Dampaknya) Terbatas, dari kita terlalu jauh,” ucap Purbaya.
Purbaya menjelaskan, konflik tersebut pun tidak berpengaruh pada penurunan suplai minyak dunia.
Pantau harga minyak dunia
Sedangkan menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bahwa dirinya, belum memonitor langsung pengaruh perseteruan kedua negara tersebut ke RI.
Menurutnya harga minyak dunia masih relatif rendah sekitar 63 dollar AS per barrel usai meletusnya konflik Amerika Serikat (AS) versus Venezuela. Sehingga kedepannya Airlangga akan terus memonitor perkembangan konflik kedua negara tersebut.
“Itu masih dimonitor karena yang utama kan berpengaruh terhadap harga minyak. Tetapi harga minyak kita monitor kalau satu dua hari ini pun tidak ada perubahan,” kata Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (5/1/2026).
Menurutnya perseteruan tersbeut terjadi pada periode aset-aset Amerika Serikat memang sempat dinasionalisasi. Karena itu, menurut Airlangga, pemerintah saat ini memilih untuk mencermati dan memantau perkembangan situasi ke depan.
Sumber : Kompas.com
