SMARTPEKANBARU.COM-Masalah kesuburan atau infertilitas sering kali dianggap sebagai isu yang hanya berfokus pada wanita. Namun, fakta medis terbaru mengungkapkan bahwa peran pria dalam keberhasilan kehamilan sangatlah signifikan. Dalam sebuah sesi edukasi mendalam, dr. Wanly Syahrizal Pasaribu, Sp.And, Dokter Spesialis Andrologi dari RS Awal Bros Sudirman Pekanbaru, membedah tuntas mengapa deteksi dini kesehatan reproduksi pria menjadi kunci utama bagi pasangan yang mendambakan buah hati,Rabu (18/02/2026).
Dr. Wanly mengawali pembicaraan dengan menjelaskan urgensi bidang Andrologi yang masih awam di telinga masyarakat. Beliau menegaskan bahwa Andrologi adalah cabang ilmu kedokteran yang khusus menangani sistem reproduksi dan perkemihan pria. “Kalau wanita punya dokter spesialis kandungan atau Ginekologi, maka pria punya spesialis Andrologi. Kami fokus pada struktur, fungsi, hingga gangguan hormon yang spesifik pada laki-laki,” jelas dr. Wanly dalam sesi tersebut.
Salah satu poin krusial yang ditekankan adalah statistik penyebab infertilitas pada pasangan. Dr. Wanly memaparkan bahwa sekitar 40 hingga 50 persen kendala dalam memiliki keturunan berasal dari faktor pria. “Penting bagi pasangan untuk tidak saling menyalahkan. Seringkali hanya istri yang diperiksa, padahal suami juga punya peran 50 persen. Analisis sperma adalah langkah awal yang sangat sederhana namun menentukan untuk melihat kualitas jumlah dan gerak sperma,” ungkapnya tegas.
Lebih lanjut, dr. Wanly menyoroti bagaimana kebiasaan sehari-hari di era modern dapat secara drastis menurunkan kualitas reproduksi. Paparan panas berlebih, seperti kebiasaan memangku laptop atau penggunaan celana yang terlalu ketat, menjadi perhatian serius. “Suhu di area testis itu harus lebih rendah dari suhu tubuh. Jika terpapar panas terus-menerus, produksi sperma akan terganggu. Belum lagi pengaruh asap rokok dan polusi yang bisa merusak materi genetik sperma,” tambahnya.
Tidak hanya soal kesuburan, edukasi ini juga membahas masalah hormonal seperti defisiensi testosteron atau andropause. Gejala seperti mudah lelah dan penurunan gairah seksual sering kali dianggap remeh sebagai faktor usia. “Penurunan hormon testosteron bukan cuma soal performa di ranjang, tapi juga memengaruhi mood dan energi harian. Ini adalah kondisi medis yang bisa kita bantu melalui terapi hormon yang tepat,” ujar dr. Wanly menjelaskan fenomena yang sering disebut ‘menopause-nya pria’ ini.
Dalam diskusinya, beliau memaparkan bahwa banyak kasus infertilitas pria, seperti kondisi varikokel (varises pada kantong zakar), dapat ditangani dengan keberhasilan tinggi jika ditemukan lebih awal. “Banyak pasien yang baru datang setelah bertahun-tahun menikah. Padahal, jika dideteksi sejak dini, masalah seperti varikokel bisa kita tangani dengan prosedur medis sehingga kualitas sperma bisa kembali optimal untuk promil,” terangnya mengenai pentingnya penanganan ahli.
Sebagai penutup, dr. Wanly mengajak kaum pria untuk membuang stigma malu atau takut dalam memeriksakan diri ke dokter spesialis. Beliau menegaskan bahwa melakukan deteksi dini bukan berarti mengakui kelemahan, melainkan sebuah bentuk tanggung jawab terhadap pasangan. “Jangan menunggu masalah menjadi parah. Datang ke spesialis Andrologi adalah bentuk kasih sayang dan tanggung jawab suami untuk masa depan keluarga yang harmonis,” tutupnya.
Sumber : Smartpekanbaru
