SMARTPEKANBARU.COM – Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich sekali lagi memberikan pernyataan tegas mengenai masa depan Jalur Gaza. Dalam dialog dengan media publik Israel, Smotrich menekankan bahwa angkatan bersenjata Israel akan menguasai seluruh area Gaza jika Hamas tidak bersedia menyerahkan senjatanya.
“Kami memperkirakan bahwa dalam beberapa hari mendatang, Hamas akan diberi ultimatum untuk melucuti senjata dan sepenuhnya melakukan demiliterisasi Gaza,” ucap Smotrich, sebagaimana dikutip dari Al Arabiya.
“Jika Hamas tidak mematuhinya, IDF (tentara Israel) akan memiliki legitimasi internasional dan dukungan Amerika untuk melakukannya sendiri, dan IDF sudah mempersiapkan hal ini dan sedang membuat rencana,” ujar menteri tersebut, yang merupakan anggota kabinet keamanan Israel yang bertugas menyetujui operasi militer skala besar.
Smotrich menekankan bahwa menghilangkan militerisasi Hamas adalah syarat penting untuk membangun keamanan jangka panjang di area ini.
Pemerintah Israel berpendapat bahwa selama Hamas masih memiliki kekuatan militer, Jalur Gaza akan terus menjadi ancaman bagi keamanan mereka.
Oleh karena itu, pelucutan senjata dari Hamas dianggap sebagai langkah vital untuk mencegah konflik yang berulang di masa depan.
Pernyataan ini berkaitan dengan keberlanjutan proses gencatan senjata yang sedang berlangsung saat ini. Dalam tahap kedua dari kesepakatan yang didukung oleh Amerika Serikat, salah satu isu utama yang disetujui adalah penarikan pasukan Israel secara bertahap dari Gaza, disertai dengan usaha untuk mendemiliterisasi Hamas sebagai bagian dari upaya menuju stabilitas jangka panjang di wilayah tersebut. Sebagai imbalannya, pasukan Israel akan kembali ke posisi di belakang “Garis Kuning”, tetapi tetap mempertahankan kontrol atas lebih dari setengah wilayah Gaza.
Hamas Tolak Ultimatum Israel
Kelompok Hamas belum merespon secara resmi terhadap ultimatum yang dilaporkan akan diajukan oleh Israel. Namun, dalam beberapa pernyataan terbaru, Hamas dengan jelas menolak permintaan dari pejabat pemerintah Israel yang meminta agar mereka menyerahkan senjata dalam waktu 60 hari.
Mahmoud Mardawi, seorang pejabat tinggi Hamas, mengungkapkan bahwa ia tidak mengetahui tentang adanya tuntutan resmi tersebut.
Dalam sebuah wawancara bersama Al Jazeera, ia menyebut pernyataan yang disampaikan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melalui media sebagai ancaman yang tidak berdasar. Dalam sebuah wawancara bersama Al Jazeera, ia menyebut pernyataan yang disampaikan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melalui media sebagai ancaman yang tidak berdasar.
“Pernyataan yang dibuat Perdana Menteri Israel dan melalui media hanyalah ancaman tanpa dasar dalam negosiasi yang sedang berlangsung,” ungkap Mardawi.
Sikap saling bertentangan ini menunjukkan bahwa negosiasi yang sedang berjalan masih terhalang oleh tantangan yang signifikan. Israel menegaskan bahwa penghapusan senjata Hamas merupakan prasyarat penting untuk keamanan yang stabil, sementara Hamas melihat permintaan tersebut sebagai sesuatu yang tidak masuk akal dalam konteks diskusi saat ini.
Ketegangan yang meningkat berpotensi untuk kembali memicu ketegangan di Jalur Gaza. Meskipun jalur diplomatik dan rencana stabilisasi internasional masih dalam pembahasan, pernyataan tegas dari pejabat Israel menunjukkan bahwa penggunaan kekuatan militer belum sepenuhnya diabaikan. Perkembangan dalam beberapa hari ke depan akan menjadi faktor penentu bagi kondisi keamanan di Gaza, apakah akan mengarah pada stabilisasi melalui kesepakatan politik atau kembali ke fase peningkatan konflik bersenjata.
Gaza Masih Mencekam, Diliputi Duka dan Ketidakpastian
Lebih jauh, keadaan di Jalur Gaza tetap sangat tegang meskipun para pemimpin global berkumpul di Washington untuk pertemuan pertama Dewan Perdamaian (BoP) yang dibentuk oleh Presiden AS Donald Trump, yang menjanjikan investasi miliaran dolar untuk memperbaiki Gaza.
Di lapangan, kaum Palestina masih menjalani Ramadan dalam keterbatasan, tinggal di tenda darurat karena rumah mereka hancur akibat serangan Israel sejak bulan Oktober 2023. Beberapa pengungsi menyatakan bahwa suasana Ramadan tahun ini hampir serupa dengan dua tahun sebelumnya ketika konflik masih berlangsung.
Ziad Dhair, seorang pengungsi yang berasal dari Gaza utara dan kini tinggal di kamp Nuseirat, mengungkapkan bahwa satu-satunya perbedaan adalah menurunnya intensitas pemboman besar-besaran. Namun, perasaan kehilangan dan penderitaan tetap tidak berubah. Ia mengungkapkan bahwa hampir semua teman dan anggota keluarganya telah meninggal. Ramadan yang dulunya identik dengan kebersamaan kini menjelma menjadi bulan yang penuh kesepian.
Banyak orang tidak lagi memiliki rumah untuk kembali, bahkan ada yang masih dilarang memasuki area tempat tinggal mereka karena dianggap sebagai zona militer yang dibatasi. Keadaan yang sama dialami oleh Umm Mohammed Abu Qamar, seorang warga Jabalia di Gaza utara. Tahun ini ia terpaksa merayakan Ramadan di tenda pengungsian yang terletak di Gaza tengah.
Ia mengungkapkan kerinduan terhadap tempat tinggalnya yang hancur serta komunitas yang dulu menjadi bagian penting dalam hidupnya. Dua saudara perempuannya dan dua menantunya tewas akibat serangan yang terjadi, menyisakan duka mendalam di tengah bulan suci ini.
Dari segi ekonomi, keadaan masih sangat sulit. Meskipun pasar di Gaza mulai dipenuhi dengan berbagai barang, mayoritas penduduk tidak memiliki cukup uang untuk membeli karena sudah kehilangan pekerjaan lebih dari dua tahun. Sekarang, banyak keluarga bergantung pada dapur umum untuk memperoleh makanan saat berbuka puasa.
Distribusi bantuan energi juga masih jauh dari harapan. Dari sekitar 1.500 truk gas yang dijadwalkan masuk sejak akhir Januari, hanya 307 truk yang berhasil masuk, memenuhi sekitar 20 persen dari kebutuhan. Sebagai akibatnya, masyarakat kembali menggunakan kayu bakar untuk memasak, sama seperti yang mereka lakukan selama masa perang.
Bagi beberapa orang, kondisi saat ini bahkan lebih sulit daripada ketika mengalami masa kelaparan sebelumnya.
Jika dulu barang-barang tidak tersedia, saat ini barang-barang ada tetapi daya beli masyarakat sangat rendah. Tabungan telah habis untuk biaya pengungsi, pembelian tenda, dan perpindahan dari satu tempat ke tempat lainnya.
Sumber: Tribunnews.com
