SMARTPEKANBARU.COM – Presiden Prabowo Subianto diketahui menggelar pertemuan dengan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis (19/3/2026). Pertemuan tersebut menjadi perhatian publik karena mempertemukan dua tokoh penting dalam dinamika politik nasional.
Namun demikian, terkait agenda tersebut, Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), memilih untuk tidak memberikan tanggapan atau komentar apa pun kepada awak media.
Momen itu terjadi setelah Jokowi melaksanakan ibadah salat Idulfitri 1447 Hijriah di Masjid Jami’ Al-Bina yang berada di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, pada Sabtu (21/3/2026).
Usai menunaikan ibadah, Jokowi terlihat berjalan menuju kendaraannya sambil dikawal. Saat itulah sejumlah awak media mencoba meminta tanggapan terkait pertemuan Prabowo dan Megawati. Namun, Jokowi hanya memberikan respons singkat tanpa penjelasan lebih lanjut.
“Makasih-makasih,” kata Jokowi singkat kepada sambil terus berjalan pelan menuju kendaraannya.
Jokowi kemudian meninggalkan lokasi sekitar pukul 07.36 WIB bersama sang istri, Iriana Joko Widodo. Keduanya tampak langsung menuju mobil BMW i7 dengan nomor polisi BK 1325 tanpa memberikan keterangan tambahan kepada media.
Sikap Jokowi yang enggan berkomentar tersebut memunculkan berbagai spekulasi, meskipun tidak ada pernyataan resmi yang disampaikan olehnya.
Sementara itu, pertemuan antara Prabowo dan Megawati di Istana Merdeka pada Kamis (19/3/2026) dikonfirmasi oleh Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto. Ia menjelaskan bahwa pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana yang hangat dan penuh keakraban, layaknya pertemuan antara dua sahabat lama yang telah lama tidak berjumpa.
“Ibu Megawati menyampaikan kepada saya bahwa itu adalah pertemuan teman lama dan berlangsung secara akrab selama lebih dari 2 jam,” kata Hasto dalam keterangannya, Kamis.
Dalam kesempatan tersebut, Megawati tidak hadir seorang diri. Ia turut didampingi oleh putrinya, Puan Maharani, yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPR RI. Kehadiran Puan dinilai memiliki makna tersendiri, terutama dalam konteks komunikasi politik tingkat tinggi yang semakin terbuka dan dinamis.
Hal ini memperlihatkan adanya sinyal hubungan yang cair antara tokoh-tokoh penting di pemerintahan dan partai politik. Meski berlangsung dalam nuansa kekeluargaan, Hasto mengungkapkan bahwa pertemuan itu juga membahas berbagai isu strategis yang berkaitan dengan kepentingan bangsa dan negara.
Diskusi yang berlangsung selama lebih dari dua jam tersebut menjadi ruang bagi kedua tokoh untuk bertukar pandangan mengenai berbagai tantangan nasional maupun perkembangan geopolitik global.
“Dibahas hal-hal strategis tentang persoalan bangsa dan negara, serta berbagai persoalan geopolitik,” ungkap Hasto.
Lebih lanjut, Hasto menyampaikan bahwa dalam pertemuan tersebut, Prabowo banyak menyerap pengalaman Megawati, khususnya saat menjabat sebagai Presiden ke-5 RI.
Pengalaman Megawati dalam menghadapi dan mengatasi krisis multidimensional dinilai menjadi referensi penting dalam diskusi tersebut. Selain itu, keduanya juga menyoroti pentingnya sense of priority dan sense of urgency dalam proses pengambilan kebijakan negara agar tetap responsif terhadap dinamika yang berkembang.
Pembahasan juga mencakup isu geopolitik internasional, termasuk peran historis Indonesia dalam Konferensi Asia Afrika (KAA), Gerakan Non-Blok, hingga komitmen dalam membangun tatanan dunia baru melalui prinsip politik luar negeri bebas aktif.
“Demikian juga terkait persoalan geopolitik, khususnya kepeloporan Indonesia dalam Konferensi Asia Afrika (KAA), Gerakan Non-Blok, hingga peran membangun tata dunia baru melalui politik luar negeri bebas aktif,” jelas Hasto.
Bahkan, Megawati turut membagikan pengalamannya saat melakukan kunjungan terakhir ke Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi kepada Presiden Prabowo.
Hasto menegaskan bahwa PDI Perjuangan memandang pertemuan ini sebagai bagian dari nilai luhur bangsa Indonesia, yakni semangat gotong royong. Dialog dan komunikasi antar pemimpin bangsa dianggap sebagai langkah penting dalam menjaga stabilitas nasional serta memastikan kebijakan yang diambil tetap berpihak pada kepentingan rakyat.
“Pertemuan antarpemimpin bangsa sebagaimana terjadi dengan Presiden Prabowo dan Presiden Kelima Megawati Soekarnoputri selain sesuai dengan kultur bangsa untuk saling berdialog, juga ditujukan bagi kepentingan rakyat, bangsa, dan negara,” tandasnya.
Sebagai penutup, pertemuan antara Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri ini mencerminkan pentingnya komunikasi lintas kekuatan politik dalam menghadapi berbagai tantangan nasional dan global.
Di tengah dinamika politik yang terus berkembang, dialog semacam ini diharapkan mampu memperkuat sinergi antarpemimpin serta menjaga stabilitas pemerintahan.
Sementara itu, sikap Jokowi yang memilih tidak berkomentar menunjukkan kehati-hatian dalam merespons isu politik, sekaligus memberi ruang bagi publik untuk menilai dinamika yang terjadi secara lebih objektif.
Sumber: TribunPekanbaru.com
