SMARTPEKANBARU.COM – Neraca perdagangan Provinsi Riau pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar US$1,22 miliar. Surplus tersebut ditopang oleh kinerja sektor nonmigas sebesar US$1,20 miliar dan sektor migas sebesar US$15,00 juta.
Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Riau, Asep Riyadi, menyampaikan bahwa meskipun surplus, nilainya mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Pada Januari 2026, neraca perdagangan barang Provinsi Riau mengalami surplus sebesar US$ 1.219,81 juta (US$1,22 miliar), namin turun sebesar US$ 175,69 juta dibanding periode yang sama tahun sebelumnya,” kata Asep, Senin (2/3/2026).
Dari sisi ekspor, kinerja perdagangan luar negeri Riau menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat. Nilai ekspor Januari 2026 mencapai US$1,85 miliar atau meningkat 23,16 persen dibanding Januari 2025. Ekspor nonmigas yang mencapai US$1,79 miliar juga mengalami kenaikan sebesar 29,06 persen.
“Nilai ekspor Riau Januari 2026 mencapai US$1,85 miliar atau naik 23,16 persen dibanding Januari 2025. Sejalan dengan total ekspor, nilai ekspor nonmigas yang mencapai US$1,79 miliar juga naik 29,06 persen,” ujar Asep.
Dari sepuluh komoditas nonmigas terbesar, lemak dan minyak hewan/nabati menjadi komoditas dengan kenaikan tertinggi, yakni sebesar US$495,27 juta atau tumbuh 75,77 persen. Sebaliknya, berbagai produk kimia mencatat penurunan terbesar sebesar US$77,44 juta atau turun 34,03 persen.
Untuk negara tujuan ekspor nonmigas, Tiongkok menjadi pasar utama dengan nilai US$244,12 juta, diikuti India sebesar US$230,85 juta dan Pakistan US$128,07 juta. Ketiga negara tersebut menyumbang 33,75 persen dari total ekspor nonmigas.
“Ekspor nonmigas Januari 2026 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$244,12 juta, disusul India US$230,85 juta, dan Pakistan US$128,07 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 33,75 persen,” jelasnya.
Ekspor nonmigas ke kawasan ASEAN tercatat sebesar US$288,84 juta, sedangkan ke Uni Eropa (27 negara) sebesar US$165,63 juta. Berdasarkan sektor, ekspor hasil industri pengolahan meningkat 29,94 persen, sementara ekspor hasil pertanian menurun 8,84 persen dibandingkan Januari 2025.
Di sisi lain, nilai impor Riau pada Januari 2026 mencapai US$629,07 juta atau melonjak 494,97 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Kenaikan signifikan juga terjadi pada impor migas dan nonmigas.
“Nilai impor Riau Januari 2026 mencapai US$629,07 juta atau naik 494,97 persen dibanding periode yang sama tahun 2025. Sejalan dengan total impor, nilai impor migas naik 1.537,80 persen menjadi US$47,31 juta dan nilai impor nonmigas naik 465,68 persen menjadi US$581,76 juta,” kata Asep.
Seluruh sepuluh komoditas impor nonmigas terbesar mengalami peningkatan, dengan kenaikan tertinggi berasal dari kapal terbang dan bagiannya sebesar US$398,19 juta.
Tiga negara pemasok utama impor nonmigas Riau pada Januari 2026 adalah Prancis sebesar US$399,17 juta (68,61 persen), Tiongkok sebesar US$44,64 juta (7,67 persen), dan Kanada sebesar US$30,86 juta (5,30 persen).
Impor nonmigas dari ASEAN tercatat sebesar US$39,65 juta (6,82 persen), sedangkan dari Uni Eropa mencapai US$413,64 juta (71,10 persen).
Berdasarkan golongan penggunaan barang, impor barang modal melonjak sangat tinggi sebesar 8.525,53 persen menjadi US$421,72 juta dibanding Januari 2025. Impor barang konsumsi naik 37,53 persen menjadi US$0,64 juta, sementara bahan baku/penolong meningkat 105,93 persen menjadi US$206,70 juta.
Secara nasional, neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 juga mencatat surplus sebesar US$1,22 miliar, yang berasal dari surplus sektor nonmigas sebesar US$1,20 miliar dan sektor migas sebesar US$15,00 juta.
Sumber: Media Center Riau
