(cerita real di dunia fiksi)
Namanya Zulkarnain.
Orang-orang memanggilnya Pak Zul. Ia seorang aparatur sipil negara (ASN), dengan penghasilan setara UMR ditambah tunjangan seadanya. Namun, seperti banyak orang lain, ia punya mimpi besar: menjadi Sekretaris Daerah (Sekda) di sebuah kabupaten.
Masalahnya hanya satu: kursi Sekda itu mahal. Bahkan, terasa semahal sebuah Land Cruiser 300—yang baru, berwarna hitam, dan setiap melintas seolah membuat aspal ikut menunduk.
Pak Zul mencoba berhitung. Ia mengandalkan kalkulator, logika, dan sedikit doa. Gaji Sekda, misalnya, sekitar Rp15 juta per bulan. Sementara cicilan mobil impian itu bisa mencapai Rp30 juta per bulan, dengan harga kendaraan di atas Rp2 miliar.
Kesimpulannya sederhana: tidak masuk akal.
Namun, akal sehat kerap kalah oleh keinginan untuk “duduk”.
Akhirnya, Pak Zul mengambil keputusan. Ia siap mencicil. Ia datang ke dealer, tersenyum pada tenaga penjual, dan menandatangani berkas demi berkas. Ketika ditanya soal uang muka, ia menjawab singkat, “DP-nya jabatan.”
Mobil pun datang. Foto diunggah ke media sosial dengan keterangan, “Bismillah, amanah baru.”
Sementara di dalam benaknya, kalimatnya berbeda: “Bismillah, lunas lima tahun.”
Matematika Jabatan
Hari pertama menjabat Sekda dipenuhi agenda: rapat, tanda tangan dokumen, sesi foto, hingga seremonial sambutan.
Di sela-sela itu, sebuah notifikasi muncul di ponselnya: cicilan mobil jatuh tempo.
Ia kembali berhitung. Gaji Rp15 juta, cicilan Rp30 juta. Selisihnya minus Rp15 juta. Keringat dingin mulai terasa.
Dalam kegamangan, ia mencoba berfilosofi: jika ada lubang, tutup dengan lubang baru. Jika ada beban, cari sumber lain untuk menutupnya. Jika ingin menjaga “amanah”, maka cicilan harus diamankan lebih dulu.
Di titik itu, lingkaran mulai terbentuk. Kursi yang diraih dengan beban, perlahan berubah menjadi alat untuk menutup beban itu sendiri. Sebuah siklus yang berputar rapi—seperti roda kendaraan yang ia banggakan.
Ironi Beroda Empat
Di mata masyarakat, Pak Sekda adalah simbol keberhasilan. Mobil dinasnya gagah, mengilap, dan berwibawa. Setiap melintas, ia dipandang sebagai representasi kesuksesan.
Namun di balik kemudi, ada percakapan berbeda. Telepon ke pihak pembiayaan, permintaan penundaan pembayaran, dan harapan akan “pencairan” yang segera datang.
Pencairan apa?
Bisa banyak makna: proyek, anggaran, bahkan—dalam arti yang lebih sunyi—pencairan hati nurani.
Pesan dari Dashboard
Seperti kendaraan pada umumnya, mobil itu memiliki indikator di dashboard.
Namun, dalam cerita ini, indikator tersebut seolah berbicara lebih jauh:
Pertama, indikator bahan bakar yang berkedip—menggambarkan cadangan yang kian menipis.
Kedua, lampu peringatan mesin yang menyala—pertanda ada yang tidak beres dan perlu diperiksa.
Ketiga, sabuk pengaman—yang seharusnya menjaga keselamatan, namun diibaratkan sebagai pengikat tanggung jawab yang kerap diabaikan maknanya.
Pak Zul bukan sosok jahat. Ia hanya terjebak dalam perhitungan yang keliru. Ia mengira jabatan adalah investasi yang bisa dikonversi menjadi keuntungan.
Padahal, jabatan sejatinya adalah bentuk pengabdian—yang ketika diuangkan, justru berpotensi merugikan banyak pihak.
Catatan Akhir
Cerita ini mungkin fiksi. Namun, realitas yang disinggung terasa dekat. Ketika jabatan harus “dibayar” dengan gaya hidup yang tidak sepadan, maka beban itu tak lagi menjadi urusan pribadi.
Ada konsekuensi yang bisa bergeser ke publik: melalui kebijakan yang bias, proyek yang tak transparan, hingga praktik-praktik yang menggerus kepercayaan.
Pada akhirnya, kendaraan itu bukan lagi simbol prestasi.
Ia berubah menjadi simbol harga yang harus dibayar dari sebuah kursi kekuasaan.
Tamat.
Ditulis Oleh : Rhr. Dodi Sarjana (Jurnalis dan Pakar Komuniakasi)

