SMARTPEKANBARU.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru memantau lonjakan signifikan titik panas (hotspot) di wilayah Sumatra dengan total mencapai 1.625 titik, di mana Provinsi Riau menyumbang sebanyak 171 hotspot.
Prakirawan BMKG Pekanbaru, Mari Frystine, mengonfirmasi bahwa sebaran titik panas di Riau tersebar di beberapa daerah kunci, meliputi Kabupaten Pelalawan sebanyak 72 titik, Indragiri Hilir 53 titik, Indragiri Hulu 14 titik, Kuansing 12 titik, Siak 18 titik, serta Dumai dan Kota Pekanbaru masing-masing 1 titik.
“Dampak asap karhutla ini juga mulai memicu penurunan jarak pandang (visibility) di sejumlah wilayah, seperti Pekanbaru yang tersisa 3 kilometer, Pelalawan dan Tambang 5 kilometer, serta Rengat 6 kilometer. Daerah tersebut berasap,” katanya Kamis (27/8/2026).

Kondisi paling parah terpantau melanda kawasan semak belukar di atas lahan gambut tebal Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, yang hingga kini masih diselimuti kabut asap pekat dan kobaran api membesar.
Karhutla yang melanda kawasan Kerumutan ini tercatat telah menghanguskan luas lahan hingga mencapai 969 hektare, menciptakan ancaman serius bagi ekosistem dan kualitas udara daerah setempat.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Edy Afrizal, mengungkapkan bahwa amukan api di wilayah Kerumutan bukanlah kejadian singkat, melainkan krisis kebakaran hebat yang telah berlangsung secara konstan selama hampir satu bulan terakhir.
“Kondisi medan gambut yang tebal ditambah tumpukan vegetasi semak belukar yang mengering membuat area ini sangat rentan terbakar sekaligus membahayakan keselamatan personel pemadam,” ujar Edy.
Meski berhadapan dengan medan yang sangat ekstrem, kerja keras pantang menyerah dari tim gabungan di lapangan kini mulai membuahkan hasil positif dalam melokalisir pergerakan si jago merah.
Dari total 969 hektare lahan yang terbakar di Kerumutan, Edy mengonfirmasi bahwa lebih dari 600 hektare titik api di antaranya berhasil dipadamkan dan dikendalikan agar tidak semakin meluas ke pemukiman atau hutan inti.
Perjuangan menembus benteng api ini melibatkan kolaborasi lintas sektor yang sangat solid melalui pengerahan ratusan personel gabungan di jalur darat. Unsur-unsur yang terlibat meliputi TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Dinas Kehutanan, hingga Satpol PP yang saling bahu-membahu menembus titik-titik panas di tengah kepungan asap pekat.
“Aksi tanggap darurat ini juga mendapat sokongan penuh dari sektor swasta, salah satunya PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) yang turut menerjunkan armada regu pemadam kebakaran (RPK) beserta fasilitas medis dan evakuasi. Bantuan peralatan serta personel RAPP difokuskan untuk memperkuat operasi pemadaman di dua titik kritis, yakni Kecamatan Kerumutan dan Rantau Baru di Kabupaten Pelalawan,” jelas Edy.
Mengingat akses darat yang sangat sulit dijangkau akibat medan gambut dan belukar rapat, Satgas Udara melipatgandakan kekuatan dengan mengoperasikan beberapa unit helikopter water bombing bantuan dari BNPB dan Kementerian Kehutanan.
“Operasi penyiraman air dari udara ini dimaksimalkan untuk menggempur titik api utama serta mendukung pergerakan tim darat yang berjibaku di garis depan,” ucapnya.
Bencana karhutla di Kerumutan ini merupakan bagian dari gelombang kebakaran hutan dan lahan yang tengah menghantam 12 kabupaten dan kota di Provinsi Riau.
Secara akumulatif, total luas lahan yang hangus terbakar di seluruh wilayah Riau sepanjang periode Januari hingga Agustus telah menembus angka memprihatinkan, yakni lebih dari 16.000 hektare.
Sumber: mediacenter.riau.go.id
