Ditulis Oleh : RHR Dodi Sarjana
Kita semua tahu, di jantung Kota Pekanbaru, di Jalan Arifin Ahmad, berdiri sebuah gedung megah bertingkat yang dilengkapi pendingin udara, jaringan internet, studio podcast, studio foto, coworking space, hingga ruang untuk berbagai kegiatan. Namanya Riau Creative Hub.
Gedung ini dibangun Pemerintah Provinsi Riau dengan mimpi besar: menjadi rumah bagi anak muda kreatif Riau agar tidak perlu pergi ke Jakarta hanya untuk berkarya.
Sayangnya, mimpi itu hari ini terasa melompong.
Pada siang hari, gedungnya kerap terlihat sepi. Lampu mati. Parkiran kosong. Padahal, di luar sana, ribuan konten kreator, desainer, musisi, hingga pelaku UMKM Riau masih kebingungan mencari tempat produksi yang layak dan terjangkau.
Ini bukan cerita tentang kegagalan. Ini cerita tentang sebuah aset yang sedang tidur. “Nyawanya” masih setengah sadar.
RCH bukan gedung kosong. Data 2025–2026 menunjukkan tempat ini masih digunakan untuk berbagai kegiatan. Pada 11 Juli 2026, misalnya, kegiatan “Bakarin Ride 2026” yang melibatkan komunitas otomotif dan skateboard digelar di sini dan dipadati pengunjung.
Sebelumnya, pada Oktober 2025, Festival Sastra Melayu Riau mengumpulkan 35 sastrawan se-Riau di tempat ini. Awal 2025, RCH juga menjadi venue Riau Modest Fashion Parade.
Masalahnya, semua kegiatan itu masih bersifat event-based. RCH hidup ketika ada komunitas yang meminjam atau menggunakan tempat tersebut.
Tidak ada denyut harian. Tidak ada jadwal tetap yang membuat publik tahu bahwa, misalnya, “setiap Kamis ada kelas editing” atau “setiap Sabtu ada pasar kreatif”.
Akibatnya, citra yang muncul adalah RCH sepi dan terbengkalai. Padahal fasilitasnya lengkap.
Sayang.
Di saat yang sama, muncul wacana baru. Konon, Pemerintah Kota Pekanbaru membahas “Pekanbaru Creative Hub” di 15 kecamatan. TVRI Riau juga meresmikan “TVRI Creative Hub” pada 26 Juni 2026 dengan dukungan swasta.
Niatnya tentu baik. Tetapi pertanyaannya sederhana: untuk apa membangun rumah baru jika rumah yang sudah megah di Jalan Arifin Ahmad belum kita isi?
Tiga Persoalan Utama
“Mati suri”-nya RCH setidaknya memiliki tiga penyebab utama.
Pertama, tidak ada kurator acara.
RCH dikelola UPT di bawah Dinas Pariwisata Riau. Fokus pengelolaan tentu lebih banyak pada aspek administratif. Padahal, sebuah creative hub membutuhkan “programmer”—orang yang setiap bulan mengisi kalender dengan kelas, kompetisi, pameran, dan berbagai kegiatan kreatif.
Tanpa itu, gedung sebagus apa pun akan kosong.
Kedua, akses dipersulit.
Mau menggunakan studio harus mendaftar, menunggu, dan melalui proses yang bertele-tele. Anak muda menginginkan sesuatu yang cepat dan praktis.
Jika menyewa studio di ruko lebih mudah, mereka tentu akan memilih ke sana.
Ketiga, tidak ada branding yang kuat.
Publik tidak tahu RCH sebenarnya bisa digunakan untuk apa saja. Media sosialnya pun relatif sepi pembaruan. Padahal, di era sekarang, konten adalah napas sebuah creative hub.
Karena itu, saat ini dan ke depan, pemerintah daerah mestinya tidak perlu menambah beban APBD dengan membangun gedung baru. Fokus saja menghidupkan RCH.
Serahkan kepada Ekosistem
Agar rencana ke depan berjalan, RCH sebaiknya diserahkan kepada ekosistem kreatif, bukan semata-mata birokrasi.
Bentuk “Badan Pengelola RCH” yang melibatkan 50 persen unsur komunitas: RCG, IFC, komunitas film, game, musik, dan komunitas kreatif lainnya.
Pemerintah cukup menjadi fasilitator sekaligus penyandang dana. Berikan target, misalnya 20 kegiatan per bulan. Tetapkan pula indikator kinerja atau KPI, seperti jumlah pengguna dan jumlah karya yang lahir dari RCH.
Selanjutnya, buat kalender kegiatan tetap yang ditunggu publik.
Sebagai contoh, jadwal selama sebulan dapat diisi dengan:
- Senin: Kelas gratis digital marketing untuk UMKM.
- Rabu: Open mic musik dan rekaman podcast gratis.
- Jumat: Co-working day. Freelancer berkumpul, dengan kopi gratis.
- Sabtu: Pameran dan bazar produk kreatif Riau.
- Minggu: Screening film pendek dan bedah karya.
Jika jadwalnya jelas, orang akan datang.
Dan ketika orang datang, UMKM di sekitar kawasan juga akan ikut hidup.
Yang tak kalah penting, studio boleh digunakan secara gratis oleh pelajar dan komunitas. Untuk perusahaan atau brand, dikenakan tarif sewa. Hasilnya diputar kembali untuk biaya perawatan dan honor mentor.
Tiru model GBK: aset negara, tetapi dikelola secara profesional.
Kolaborasi, Bukan Kompetisi
TVRI Creative Hub yang baru jangan dipandang sebagai pesaing. Jadikan ia mitra.
TVRI bisa menggunakan RCH untuk produksi di lapangan. Sebaliknya, RCH dapat memanfaatkan studio TVRI untuk kebutuhan siaran.
Jangan membangun tembok baru.
Sebab, Riau Creative Hub dibangun dengan uang rakyat. Ia adalah warisan yang belum sempat kita nikmati sepenuhnya.
Membiarkannya melompong sama dengan membuang investasi. Membangun yang baru sebelum yang lama hidup sama dengan mengulang kesalahan.
Pemerintah punya dua pilihan.
Pilihan mudahnya: bangun lagi, gunting pita lagi, foto lagi.
Pilihan benarnya: duduk bersama komunitas, mengisi kalender kegiatan, membuka pintu setiap hari, dan menjadikan RCH sebagai denyut nadi ekonomi kreatif Riau.
Kota kreatif tidak lahir dari banyaknya gedung.
Ia lahir dari banyaknya kegiatan di dalam satu gedung.
Sudah saatnya RCH tidak lagi menjadi monumen.
Saatnya ia menjadi rumah.
