Ditulis Oleh Rhr. Dodi Sarjana (Jurnalis Senior dan Pakar Komunikasi)
SMARTPEKANBARU.COM – Ada masa ketika ajakan “ke Matahari” di Pekanbaru tak membutuhkan penjelasan panjang. Semua orang tahu arahnya: Plaza Citra di Jalan Pepaya. Di sanalah, sejak 25 Oktober 1994, denyut kehidupan kota berdenyut—sebagai mal kedua di Pekanbaru, sekaligus ruang tumbuh bagi banyak kenangan.
Di lorong-lorongnya, orang-orang pernah menyusun cerita: kencan pertama yang canggung, antrean panjang di KFC, tawa di Studio 88 dengan tiket Rp10.000, hingga riuh memilih baju Lebaran di Matahari. Plaza Citra bukan sekadar bangunan; ia adalah saksi bisu perjalanan generasi.
Tiga puluh dua tahun kemudian, suara itu terdengar pelan, hampir seperti bisikan: “Aku mau istirahat.”
Kepergian sebuah pusat perbelanjaan tak hanya meninggalkan ruang kosong, tetapi juga kegelisahan. Bayang-bayang pemutusan hubungan kerja mengintai. Satpam, kasir, petugas kebersihan, hingga karyawan tenant dan bioskop—ratusan orang yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup di sini kini harus mencari pijakan baru.
Sedih? Tentu. Namun, di balik kesedihan itu, ada pertanyaan yang tak bisa dihindari: mengapa ini terjadi?
Waktu bergerak, sementara Plaza Citra tertinggal. Pada 1994, kehadiran Matahari dan Studio 88 sudah cukup menjadikannya pusat keramaian. Namun, pada 2026, lanskap berubah drastis. Pekanbaru kini memiliki pusat-pusat belanja yang lebih modern, dengan konsep hiburan dan gaya hidup yang lebih beragam.
Bahkan sejak 2018, warga telah menyuarakan hal yang sama: persaingan semakin ketat, dan yang tak berbenah akan ditinggalkan. Dalam dunia ritel, pembaruan bukan pilihan, melainkan keharusan.
Gejala kemunduran itu perlahan terlihat. Penyewa utama mulai goyah. Satu per satu tenant pergi. KFC dan Texas Chicken tak lagi bertahan. Pola konsumsi masyarakat pun berubah—belanja beralih ke platform digital, hiburan pindah ke layanan streaming, dan ruang berkumpul bergeser ke kafe atau ruang terbuka.
Di sisi lain, pengelola memiliki prioritas lain. Dengan portofolio pusat perbelanjaan yang lebih berkembang, fokus bisnis secara alami mengarah pada yang masih bertumbuh. Ini bukan soal benar atau salah—melainkan konsekuensi dari logika ekonomi.
Fenomena ini bukan hanya milik Pekanbaru. Di kota-kota besar lain, cerita serupa telah lebih dulu terjadi. Pusat-pusat perbelanjaan yang dulu menjadi ikon, kini harus bertransformasi atau ditinggalkan.
Namun, tutupnya sebuah mal tidak selalu berarti akhir. Ia bisa menjadi awal dari perubahan. Ada setidaknya tiga jalan yang bisa ditempuh.
Pertama, bagi pengelola, penutupan tidak harus berarti berhenti. Rebranding total dapat menjadi pilihan. Ruang lama bisa dihidupkan kembali dengan konsep baru—pusat ekonomi kreatif, ruang kolaborasi, hingga panggung bagi pelaku seni lokal.
Kedua, bagi pemerintah kota, gedung kosong tidak boleh dibiarkan menjadi beban ruang. Insentif kebijakan dapat mendorong transformasi menjadi kawasan campuran—hunian, perkantoran, atau bahkan pusat pendidikan.
Ketiga, bagi masyarakat dan para pekerja, perubahan ini adalah tantangan sekaligus peluang. Keterampilan yang selama ini terasah—dari pelayanan hingga penjualan—tetap relevan, hanya medianya yang bergeser.
Sementara itu, bagi warga Pekanbaru, mungkin ada satu hal sederhana yang bisa dilakukan: datang sekali lagi. Mengabadikan kenangan, menyapa ruang-ruang yang pernah akrab, dan mengucapkan terima kasih.
Karena selama lebih dari tiga dekade, Plaza Citra telah menjadi tempat berteduh—dari hujan, dari panas, dan dari hiruk-pikuk kehidupan.
Plaza Citra mungkin berhenti sebagai mal. Namun, ia tidak benar-benar hilang. Ia telah menamatkan satu fase, dan beralih menjadi bagian dari sejarah kota.
Dan di Jalan Pepaya, kenangan itu akan tetap tinggal: tempat pertama menonton film, menerima gaji, atau sekadar jatuh cinta.
Terima kasih, Plaza Citra. Pekanbaru tidak akan melupakanmu.
