Catatan Pagi dari Teras Kelas Menengah
Ditulis okeh : RHR Dodi Sarjana (Jurnalis Senior dan Pakar Komunikasi)
Pagi ini sarapan dengan kemewahan kelas menengah.
Dua butir telur rebus. Dua-duanya tiga perempat matang. Kuningnya masih setengah waras. Belum sempat jadi keras, belum sempat jadi harapan.
Sejumput mrica halus. Tajam. Jujur. Tidak pakai basa-basi.
Secangkir kopi. Hitam. Pahit. Seperti berita di TV.
Aku duduk di teras. Pura-pura jadi orang yang masih punya kendali atas hidupnya.
Di luar pagar, dunia sedang demo.
Asap kebakaran hutan dan lahan berbaris rapi, berebut naik ke langit. Debu menari-nari. Langit sudah kita cat ulang menjadi warna abu-abu premium.
Anak sekolah memakai masker bermotif. Orang tua batuk dengan sopan.
Kita semua menghirup masa depan dengan sedotan.
Kutabur mrica halus ke atas gumpalan telur.
Garing. Gurih. Nikmat.
Tapi di ujung lidah ada rasa lain.
Rasa bersalah.
Lalu aku bertanya kepada Tuhan, kepada alam, kepada diri sendiri:
Ini salah siapa?
Tuhan murka?
Mungkin. Karena kita terlalu sering menjual ayat demi proyek. Terlalu sering berdoa meminta hujan, tetapi lupa menjaga pohon yang memanggil hujan.
Alam marah?
Jelas.
Kita bakar dia setiap tahun, lalu kaget ketika dia demam. Kita keruk dadanya, lalu heran ketika dia batuk asap.
Atau karena kita memang makin tak genah?
Karena ada yang membakar lahan demi angka di laporan. Ada yang diam demi gaji. Ada yang bilang, “Nanti juga hujan,” sambil terus scroll layar HP.
Dan aku?
Aku duduk di sini, mengunyah telur, dan menulis.
Negeri ini lucu.
Kita bisa membuat konferensi iklim di hotel ber-AC. Tetapi tidak bisa memadamkan api di halaman belakang sendiri.
Kita mengekspor asap gratis kepada tetangga. Kita mengimpor penyakit untuk anak-anak kita sendiri.
Telurku habis.
Kopiku dingin.
Asap belum juga pulang.
Di teras ini aku sadar satu hal:
Surga itu kecil.
Bentuknya secangkir kopi, sebutir telur, dan udara yang bisa dihirup.
Dan kita sedang membakar surga itu pelan-pelan.
Sambil selfie.
Sambil bilang, “Sabar ya, ini demi pembangunan.”
Besok aku masih akan sarapan yang sama.
Dua telur. Mrica. Kopi.
Semoga besok langitnya sudah lebih jujur warnanya.
Semoga besok kita sudah lebih genah otaknya.
Kalau tidak…
Nanti anak cucu kita tiap sarapan sambil mulutnya “disumpal” pakai masker.
