Oleh: RHR Dodi Sarjana (Jurnalis Senior dan Pakar Komunikasi)
Tiap Agustus, Pak RT di kompleks kami rapat. Agendanya cuma satu: musim asap sudah dekat.
“Pak, tahun ini kita beli masker stok tiga dus, ya. AC kantor diservis, biar bisa jadi ruang pengungsian. Yang punya humidifier, tolong disumbangkan.”
Rapatnya khidmat. Notulennya rapi. Selesai rapat, semua pulang. Nggak ada yang bahas soal api.
Karena di sini kita bukan memadamkan. Kita memelihara.
Ibaratnya kayak pelihara kucing. Tahu kapan dia birahi, tahu kapan dia rontok bulu, tahu kapan dia pup di keset. Tapi ya dibiarin aja. Namanya juga tradisi.
Kabut asap di Pekanbaru itu lebih tepat waktu dari gaji. Kalau kabut air datang, orang bilang, “Wah, adem, seger.” Kalau kabut asap datang, kita bilang, “Wah, sesek, gatel, tenggorokan kayak ditusuk sate.”
Tapi anehnya, tiap tahun kita kaget.
“Eh, kok asap lagi?!”
Padahal di kalender sudah ditulis: Agustus–Oktober: Awas asap.
Di grup WhatsApp pun sudah ada folder: “Foto Langit Orange 2021, 2022, 2023, 2024, 2025….”
Padahal tetangga bangsa sebelah, Jepang, punya tradisi gempa. Tiap goyang dikit, sirenenya bunyi. Anak SD hafal jalur evakuasi. Tsunami datang, tanggulnya sudah menunggu duluan. Mereka nggak nunggu rumah hanyut baru rapat.
Belanda juga punya tradisi banjir. Lautnya lebih tinggi dari atap. Tapi mereka pelihara tanggul, bukan pelihara air. Jadi airnya nggak pernah nginep di ruang tamu.
Lah kita?
Kita pelihara asap.
Biaya masker N95 satu dus: Rp400 ribu.
Biaya nebulizer: Rp1 juta.
Biaya berobat ISPA satu keluarga: bisa Rp3 juta.
Biaya cegah kebakaran dari awal: … malah nggak dianggarkan. Katanya mahal.
Para pakar pernah menulis di kolom: “Mencegah lebih murah daripada mengobati.”
Komentar di bawahnya: “Setuju, Pak.”
Terus scroll. Terus beli masker lagi tahun depan.
Hari ini langit kuning keabuan lagi. Anak-anak sekolah diliburkan. Ojol pakai masker dobel. Burung-burung pada diam.
Di teras, ibu-ibu jemur baju sambil batuk. Bapak-bapak nyapu abu yang turun kayak salju versi neraka.
RT lewat, pakai pengeras suara berteriak, “Warga dimohon tetap tenang. Ini musibah tahunan. Kita hadapi bersama.”
Saya hanya bisa manggut-manggut. Sambil mikir,
musibah kalau datang sekali namanya musibah.
Kalau datang tiap tahun, jam yang sama, tempat yang sama… itu namanya jadwal peliharaan.
Dan kami? Warga yang baik.
Rajin kasih “makan asap” dengan diem.
Rajin bersihin “kandang” dengan sapu dan masker.
Rajin foto-foto buat di-share ke grup.
Kapan kita berhenti memelihara?
Mungkin pas asapnya sudah bisa bayar PBB.
Atau pas kita sudah capek batuk.
Sampai saat itu, selamat datang lagi, ya, Asap.
Tamu tahunan paling setia. Nggak pernah PHP. Selalu datang.
