SMARTPEKANBARU.COM – Pemerintah Provinsi Riau menegaskan kesiapannya mendukung rencana pembangunan jembatan yang akan menghubungkan Dumai Provinsi Riau, Indonesia, dengan Malaka, Malaysia.
Namun, dukungan tersebut tetap menunggu arah dan kebijakan pemerintah pusat, mengingat proyek ini melibatkan dua negara.
Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto, menyampaikan bahwa kewenangan utama terkait proyek lintas negara sepenuhnya berada di tangan pemerintah pusat.
Meski begitu, Pemprov Riau siap berperan sesuai porsi yang ditetapkan.
“Kami tentu tidak bisa ikut campur dalam kebijakan strategis lintas negara. Tetapi, jika dibutuhkan, daerah siap memberikan dukungan sesuai arahan pemerintah pusat,” ujar SF Hariyanto, Kamis (1/1/2026).
Rencana pembangunan jembatan Malaka–Dumai ini mencuat setelah diumumkan secara resmi oleh Pemerintah Negara Bagian Malaka.
Ketua Menteri Melaka, Ab Rauf Yusoh, mengungkapkan bahwa proyek ambisius tersebut dirancang dengan panjang bentang lebih dari 47 kilometer.
Meski telah diumumkan ke publik, proyek ini masih berada pada tahap awal.
Mengutip laporan Free Malaysia Today, Pemerintah Negara Bagian Malaka akan memulai studi kelayakan pada Januari 2026 dengan anggaran sebesar RM500.000 atau sekitar Rp 2 miliar.
Dana tersebut dialokasikan untuk kajian menyeluruh yang mencakup aspek teknis, nilai ekonomis, hingga manajemen logistik. Pemerintah Malaka juga akan melibatkan konsultan profesional guna memastikan proposal proyek tersebut layak dari berbagai sisi.
Ab Rauf Yusoh meyakini, keberadaan jembatan ini akan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi baru bagi kedua negara.
Bahkan, Pemerintah Negara Bagian Malaka telah menyiapkan rencana konversi lahan seluas 5.000 hektare di kawasan Masjid Tanah untuk dikembangkan sebagai kawasan industri terintegrasi.
Dari sisi Indonesia, Riau dinilai sebagai wilayah paling strategis untuk menjadi titik penghubung Malaysia–Indonesia.
Jarak Dumai ke Malaka relatif dekat dan dinilai potensial jika didukung infrastruktur dan sistem logistik yang memadai.
“Dampaknya akan sangat besar, terutama terhadap arus barang dan jasa,” kata SF Hariyanto.
sumber ; tribunpekanbaru.com
