SMARTPEKANBARU.COM – Anggota DPRD Kampar, Anasril mengeluarkan pernyataan tentang statusnya di PAUD Melati Desa Ranah Baru Kecamatan Kampar.
Ia mengklarifikasi posisinya pada Yayasan Pos PAUD Melati pemilik PAUD tersebut.
Sebagaimana tercantum dalam data pada laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) yang diakses Tribunpekanbaru.com, Rabu (7/1/2026).
Laman itu mencantumkan namanya sebagai pimpinan yayasan yang didirikan pada 3 Oktober 2016.
Ia mengatakan PAUD itu milik desa. Menurut wakil rakyat yang memasuki dua periode itu, kepala desa sebagai ex officio.
“Dengan berhentinya saya jadi kades, otomatis juga sudah berhenti disitu (yayasan),” katanya. Ia mengaku telah melihat Surat Keputusan (SK) PAUD dengan kepengurusan dan kepala desa yang baru.
PAUD itu viral setelah seorang orangtua murid mengunggah kritikan terhadap sajian Makan Bergizi Gratis (MBG).
Unggahan orangtua murid bernama Nurul Omaria itu melalui akun Facebook miliknya pada Rabu (24/12/2025).
Ibu itu kemudian mengunggah video curahan hatinya sambil menangis. Ia mengaku mendapat ancaman putrinya dikeluarkan dari sekolah karena kritikan itu.
Ancaman melalui grup WhatsApp PAUD Melati itu diduga dari Nurbaido. Istri Anasril Anggota DPRD itu diketahui sebagai pengurus yayasan.
Video itu viral. Pertemuan mediasi antara pihak sekolah dengan Nurul digelar di Kantor Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kampar, Senin (29/12/2025).
Pertemuan itu menyatakan persoalan selesai. Para pihak telah berdamai.
Kendati begitu, unggahan Nurul yang terbaru mengungkap perdamaian hanya sepihak karena pertemuan tidak dihadiri pengurus yayasan.
Persoalan baru muncul. Nurul mengaku belum mengantarkan putrinya ke sekolah.
Nurul mempertimbangkan kondisi psikologis dan rasa aman putrinya di sekolah PAUD Melati Desa Ranah Baru Kecamatan Kampar itu.
“Alasan belum kembali masuk sekolah, murni demi menjaga kondisi psikologis dan rasa aman anak,” katanya kepada Tribunpekanbaru.com, Selasa (6/1/2026).
Ia menyesalkan, pengurus yayasan tidak pernah memberi klarifikasi selama polemik terjadi.
“Tanpa pernah ada klarifikasi atau pertanggungjawaban langsung dari pengurus yayasan yang melakukan tindakan tersebut,” ungkapnya.
Ia menegaskan, ketidakhadiran putrinya tidak boleh dimaknai sebagai mangkir, putus sekolah, atau pengunduran diri.
Ia memilih mendahulukan perlindungan kepada putrinya sebelum ada klarifikasi dan pertanggungjawaban terbuka dari pengurus yayasan.
“Kami memilih melindungi anak kami terlebih dahulu, karena keselamatan dan kesehatan mental anak adalah yang utama,” tandasnya.
Anasril belum menjawab saat dimintai tanggapan tentang pernyataan pihak orangtua murid. Termasuk hal yang berkaitan dengan istrinya.
sumber ; tribunpekanbaru.com
