SMARTPEKANBARU.COM ,LUBUK JAMBI— Gema takbir Idulfitri 1447 Hijriah di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) tidak hanya dirayakan dengan bersilaturahmi, tetapi juga dengan menghidupkan kembali tradisi leluhur melalui seni pencak silat. Bertempat di Laman Silat Pendekar Bonsu, Kenegerian Cengar, Kecamatan Kuantan Mudik, atraksi budaya ini menjadi magnet bagi masyarakat setempat pada hari ketiga lebaran. Penampilan para pesilat dari berbagai perguruan diiringi musik calempong khas Kuansing menciptakan suasana khidmat sekaligus meriah, menegaskan bahwa tradisi rantaun kuantan tetap eksis di tengah modernisasi.
Momentum budaya ini menjadi semakin istimewa dengan kehadiran Ketua DPRD Kuansing, H. Juprizal, S.E., M.Si., yang merupakan tokoh masyarakat asli Kenegerian Cengar. Tidak sekadar menonton, Juprizal menunjukkan kedekatannya dengan akar budaya dengan turut turun ke laman silat untuk memainkan jurus-jurus seni bela diri tradisional tersebut. Aksi spontan ini mendapat apresiasi luas dari warga, karena mencerminkan sosok pemimpin yang tidak melupakan identitas serta warisan nenek moyang di tengah kesibukan menjalankan amanah legislatif.
Dalam pandangan Juprizal, pencak silat bukan hanya sekadar teknik bela diri fisik, melainkan sebuah instrumen pendidikan karakter yang sarat dengan nilai-nilai disiplin, keberanian, dan penghormatan. Di dalam setiap gerakan silat, terkandung pesan moral untuk menjaga kehormatan diri serta mempererat tali persaudaraan antar sesama anak cucu kemenakan. Tradisi ini dinilai sebagai benteng pertahanan budaya yang efektif dalam menjaga harmoni sosial, terutama dalam suasana hari kemenangan Idulfitri yang penuh dengan semangat saling memaafkan.
Lebih lanjut, Ketua DPRD Kuansing menekankan bahwa pelestarian seni silat merupakan investasi jangka panjang bagi pembentukan mental generasi muda di Kuantan Singingi. Melalui wadah positif seperti Laman Pendekar Bonsu, para pemuda dapat menyalurkan bakat mereka sekaligus menjauhkan diri dari pengaruh negatif lingkungan yang tidak bermanfaat. Karakter kuat yang terbentuk di laman silat diharapkan mampu mencetak pemimpin-pemimpin masa depan yang memiliki ketangguhan fisik serta kedalaman etika dalam bermasyarakat.
Penajaan seni pencak silat di Kenegerian Cengar ini diharapkan menjadi pematik semangat bagi laman-laman silat lainnya di wilayah Lubuk Jambi dan Kuantan Mudik yang sempat vakum dalam beberapa tahun terakhir. Keaktifan kembali sanggar-sanggar silat tradisional sangat diperlukan agar regenerasi pendekar tidak terputus. Dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk tokoh adat dan pemerintah daerah, kekhawatiran akan hilangnya identitas bela diri asli daerah dapat ditepis melalui konsistensi penyelenggaraan kegiatan serupa di setiap momen hari besar.
Menutup rangkaian kegiatan tersebut, Juprizal mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus menjaga dan melestarikan warisan budaya ini agar tetap hidup dari generasi ke generasi. Seni pencak silat harus tetap menjadi kebanggaan kolektif masyarakat Kuansing sebagai identitas daerah yang unik dan berwibawa. Dengan semangat kebersamaan di hari nan fitri, pelestarian budaya diharapkan berjalan selaras dengan pembangunan daerah, menjadikan Kuantan Singingi sebagai wilayah yang maju tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendahulu.
Sumber : Riau Pos
