SMARTPEKANBARU.COM – Selama hampir satu pekan terakhir, antrean panjang terjadi di berbagai SPBU di Kota Pekanbaru tanpa menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Situasi ini terus berlangsung meskipun desakan dari berbagai kalangan agar pihak Pertamina segera mengambil langkah konkret untuk mengatasinya semakin kuat dan meluas di tengah masyarakat.
Warga terpaksa mengantre selama berjam-jam demi mendapatkan BBM jenis Pertalite yang menjadi kebutuhan utama. Di sisi lain, ketersediaan Pertamax juga sering kosong di sejumlah SPBU. Kondisi ini memicu reaksi keras dari kalangan legislatif.
Ketua Komisi I DPRD Pekanbaru, Robin Eduar SE SH MH, mengungkapkan kemarahannya karena persoalan ini terkesan dibiarkan berlarut-larut tanpa penanganan yang jelas. “Kita minta Pertamina jujur, apa sebenarnya terjadi. Apa kendala distribusi BBM di lapangan,” tegas Robin kepada Tribunpekanbaru.com, Minggu (3/5/2026).
Berdasarkan hasil pantauan langsung Tribunpekanbaru.com di sejumlah lokasi, seperti SPBU di Jalan Srikandi, Jalan HR Soebrantas (dekat Babussalam), Jalan Soekarno Hatta, Jalan Arifin Ahmad, hingga Jalan SM Amin, antrean panjang masih terlihat terutama di jalur pengisian Pertalite.
Antrean tersebut melibatkan kendaraan roda dua maupun roda empat, dengan waktu tunggu yang cukup lama dan melelahkan bagi masyarakat. Robin menilai pernyataan Pertamina yang menyebutkan bahwa pasokan BBM dalam kondisi aman tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Ia menegaskan bahwa realitas yang dihadapi masyarakat justru menunjukkan kesulitan dalam memperoleh BBM, yang seharusnya menjadi kebutuhan dasar. “Pertamina jangan selalu bilang aman, sementara kondisi di lapangan sulit. Di SPBU antreannya sampai berjam-jam,” paparnya.
Politisi senior dari PDI-P tersebut juga mengaku turut merasakan langsung kesulitan yang dialami masyarakat. Ia sempat berkeliling mencari BBM di beberapa titik, namun tidak berhasil mendapatkannya dengan mudah. Di kawasan Jalan Riau, misalnya, stok BBM dilaporkan habis sehingga tidak dapat melayani pembeli.
Sebagai upaya terakhir, ia mencari BBM hingga ke SPBU di Jalan Kulim. Namun, kondisi di lokasi tersebut tidak jauh berbeda karena dipenuhi antrean panjang yang membuat masyarakat harus menunggu berjam-jam. Situasi ini semakin menegaskan bahwa persoalan distribusi BBM memang sedang berada dalam kondisi tidak normal.
“Kita ini daerah penghasil minyak, tapi kok justru mengalami kelangkaan. Ini yang membuat masyarakat bertanya-tanya. Jangan lah tambah penderitaan masyarakat,” pintanya.
Selain Pertalite, Robin juga menyoroti kelangkaan Pertamax yang dinilainya tidak masuk akal. Padahal, harga BBM jenis ini sudah mengalami kenaikan, namun tetap saja sulit ditemukan di sejumlah SPBU, sehingga menambah beban masyarakat yang membutuhkan alternatif bahan bakar.
“Partamax ini juga aneh, harganya sudah naik, tapi tetap saja langka dan sering habis,” akunya. Menurut Robin, kondisi kelangkaan BBM ini berpotensi menimbulkan dampak yang lebih luas, terutama terhadap stabilitas perekonomian masyarakat.
Ketergantungan tinggi terhadap BBM, baik Pertalite maupun Pertamax, menjadikan distribusi energi sebagai faktor krusial dalam menjaga kelancaran aktivitas ekonomi sehari-hari. “Kalau ini dibiarkan berlarut-larut, bisa berdampak pada kenaikan harga barang, karena distribusi terganggu,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan adanya laporan dari masyarakat terkait sulitnya mendapatkan BBM eceran. Kalaupun tersedia, harga jualnya mengalami kenaikan karena para pengecer kesulitan memperoleh pasokan dari SPBU, sehingga berdampak langsung pada biaya yang harus ditanggung masyarakat.
Menanggapi kondisi tersebut, DPRD Pekanbaru mendesak pemerintah untuk memperketat pengawasan terhadap distribusi BBM di lapangan. Langkah ini dinilai penting guna memastikan tidak terjadi penyimpangan yang dapat memperparah situasi yang sudah meresahkan.
DPRD sebagai representasi masyarakat menegaskan komitmennya untuk ikut mengawal persoalan ini secara serius. Mereka ingin memastikan distribusi BBM berjalan sesuai aturan dan tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan pribadi. “Kalau memang ada permainan, maka oknum yang terlibat harus siap berurusan dengan aparat penegak hukum,” tegasnya.
Dalam waktu satu hingga dua hari ke depan, DPRD berharap agar distribusi BBM di Kota Pekanbaru, bahkan di seluruh wilayah Provinsi Riau, dapat kembali normal. Harapan ini disampaikan agar aktivitas masyarakat tidak terus terganggu dan roda perekonomian dapat berjalan dengan lancar seperti semula.
Sumber: TribunPekanbaru.com
