SMARTPEKANBARU.COM – Perayaan Hari Jadi Kota Pekanbaru ke-242 yang menghadirkan Kue Ketan Talam Durian sepanjang 1 kilometer dan berhasil mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai Kue Ketan Talam Durian Terpanjang di Dunia menuai berbagai tanggapan dari masyarakat. Di balik pencapaian tersebut, sejumlah warga menyoroti dampak yang ditimbulkan selama dan setelah acara berlangsung, terutama terkait kemacetan lalu lintas serta sampah yang berserakan di lokasi kegiatan.
Sejak pagi, ribuan masyarakat memadati kawasan acara untuk menyaksikan dan mencicipi kue talam durian yang menjadi ikon perayaan. Membludaknya jumlah pengunjung menyebabkan kepadatan kendaraan di sejumlah ruas jalan sekitar lokasi. Arus lalu lintas dilaporkan berjalan lambat, bahkan sempat mengalami kemacetan panjang karena tingginya volume kendaraan dan aktivitas masyarakat yang terpusat di area acara.
Selain kemacetan, warga juga menilai pelaksanaan kegiatan tidak sepenuhnya sesuai dengan ekspektasi yang berkembang sebelumnya. Banyak pengunjung mengaku mengira kue talam durian akan tersaji sepanjang satu kilometer. Namun, setelah tiba di lokasi, mereka menilai yang terlihat lebih dominan adalah deretan meja yang membentang panjang, sementara jumlah kue yang tersedia dianggap tidak sebanding dengan banyaknya masyarakat yang hadir.

Kondisi tersebut memicu kerumunan di sejumlah titik. Pengunjung berdesakan untuk mendapatkan bagian kue yang disediakan. Situasi semakin padat karena banyak keluarga yang datang bersama anak-anak. Beberapa orang tua mengaku kesulitan mengawasi anak mereka di tengah keramaian, bahkan sempat terdengar pengumuman mengenai anak yang terpisah dari keluarganya saat acara berlangsung.
Masyarakat juga mengeluhkan minimnya fasilitas pendukung, seperti keterbatasan piring dan sendok untuk menikmati sajian yang disediakan. Akibatnya, sebagian pengunjung harus mencari cara sendiri untuk menyantap makanan atau memilih meninggalkan lokasi tanpa mencicipi kue yang menjadi daya tarik utama acara.
Usai kegiatan berakhir, perhatian warga beralih pada kondisi lingkungan sekitar lokasi acara. Sampah berupa sisa makanan, plastik, kemasan minuman, dan berbagai jenis limbah lainnya terlihat berserakan di sepanjang area kegiatan. Selain itu, sejumlah meja yang digunakan dalam festival tampak rusak setelah digunakan oleh ribuan pengunjung.
Banyak warga menilai keberhasilan meraih rekor MURI seharusnya juga diimbangi dengan pengelolaan acara yang lebih tertib dan ramah lingkungan. Mereka berharap pemerintah dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan kegiatan serupa di masa mendatang, terutama dalam hal pengaturan lalu lintas, pengendalian jumlah pengunjung, penyediaan fasilitas pendukung, serta penanganan sampah agar tidak meninggalkan kesan kurang baik setelah acara selesai.
