SMARTPEKANBARU.COM – Pengelolaan sumber daya alam (SDA) Riau tidak hanya dituntut mampu memberikan manfaat bagi masyarakat saat ini, tetapi juga harus memastikan kekayaan daerah tetap dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Gagasan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Diskusi Kebangsaan ke-4 bertajuk “Potensi dan SDA Daerah untuk Warisan Anak Negeri” yang digelar di Anjungan Kampar, Purna MTQ Provinsi Riau, Sabtu (15/8/2026).
Forum tersebut menjadi ruang untuk membahas potensi SDA yang dimiliki Riau sekaligus tantangan dalam mengelolanya agar mampu menjadi kekuatan pembangunan daerah. Pengelolaan yang berkelanjutan, tata kelola yang baik, serta keterlibatan berbagai pihak dinilai menjadi kunci agar kekayaan alam dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Anggota Komisi III DPRD Provinsi Riau, Abdullah, mengatakan Riau memiliki potensi SDA yang besar dan selama ini menjadi salah satu kekuatan penting dalam menopang pembangunan daerah. Namun, besarnya potensi tersebut harus diikuti kebijakan pengelolaan yang tepat agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh masyarakat.
“Potensi yang kita miliki bukan hanya untuk dimanfaatkan hari ini, tetapi juga harus kita pikirkan keberlangsungannya untuk anak cucu kita. Karena itu, pengelolaan SDA harus dilakukan secara bijak, transparan, dan memberikan nilai tambah bagi daerah,” ujarnya.
Menurut Abdullah, pembangunan Riau perlu diarahkan pada upaya memperkuat kesejahteraan masyarakat sekaligus meningkatkan kemandirian daerah. Potensi yang tersedia harus mampu diolah menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan dampak lebih besar, bukan sekadar menghasilkan keuntungan dari pemanfaatan sumber daya alam.
“Kita ingin Riau berkembang dengan kekuatan sendiri, dengan memanfaatkan potensi yang ada secara maksimal. Jangan sampai kekayaan daerah yang begitu besar justru belum mampu memberikan manfaat yang sebanding bagi masyarakat Riau,” katanya.
Ia menilai sinergi antara pemerintah, DPRD, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam memastikan kebijakan pengelolaan SDA berjalan sesuai kepentingan daerah. Kolaborasi tersebut diperlukan agar pemanfaatan sumber daya alam tetap memperhatikan aspek ekonomi, sosial, dan keberlanjutan lingkungan.
Sementara itu, Pembina Forum Aspirasi Negara Federal Indonesia, Syaed Lukman, mengatakan Diskusi Kebangsaan menjadi momentum untuk membuka ruang pemikiran mengenai arah pembangunan dan masa depan daerah. Menurutnya, kekayaan alam harus ditempatkan sebagai aset strategis yang membutuhkan visi jangka panjang dalam pengelolaannya.
“SDA merupakan amanah yang harus dijaga dan dikelola untuk kepentingan masyarakat. Kita perlu memastikan bahwa generasi berikutnya tetap mendapatkan manfaat dari kekayaan yang hari ini kita miliki,” ungkapnya.
Ia menambahkan, besarnya sumber daya yang dimiliki daerah belum cukup menjadi modal pembangunan apabila tidak disertai tata kelola yang kuat dan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat. Karena itu, pemanfaatan SDA harus mampu menciptakan nilai tambah serta mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat.
“Yang kita bicarakan bukan sekadar berapa besar kekayaan alam yang dimiliki, tetapi bagaimana kekayaan itu mampu menggerakkan pembangunan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Inilah yang harus menjadi perhatian bersama,” tuturnya.
Menurutnya, perspektif pengelolaan SDA perlu diarahkan dari sekadar mengejar pemanfaatan jangka pendek menuju pembangunan yang memberikan manfaat berkelanjutan. Dengan demikian, kekayaan alam Riau tidak hanya menjadi sumber pertumbuhan ekonomi saat ini, tetapi juga menjadi modal pembangunan bagi generasi yang akan datang.
Diskusi Kebangsaan ke-4 tersebut diharapkan dapat memperkuat kesadaran bersama mengenai pentingnya pengelolaan potensi daerah secara bertanggung jawab, sekaligus mendorong lahirnya gagasan dan kebijakan yang mampu menjadikan SDA sebagai kekuatan pembangunan yang berkelanjutan.
Sumber: mediacenter.riau.go.id
