SMARTPEKANBARU.COM- Di sudut Jalan Ahmad Yani, Kota Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, seorang pria bernama Ali berdiri dengan senapan air plastik di tangan pada 26 Januari 2023 silam.
Matanya berbinar, senyumnya tak lepas sejak pagi. Begitu kendaraan melintas, ia membidik dan melepaskan semburan air, disambut tawa dari pengendara yang basah kuyup.
“Akhirnya, dua tahun kita menunggu. Sekarang bisa main lagi!” serunya, nyaris tenggelam oleh riuh suara tembakan air dari segala arah.
Hari itu, Selatpanjang bukan sekadar kota pesisir. Ia menjelma menjadi medan perang yang penuh tawa, tempat ribuan orang berkumpul untuk merayakan Cian Cui, tradisi Perang Air yang menjadi ikon Tahun Baru Imlek di Kepulauan Meranti.
Setelah dua tahun absen akibat pandemi Covid-19, festival ini kembali menyatukan warga, wisatawan, dan kenangan yang tak pernah benar-benar hilang.
Cian Cui bukan sekadar permainan air. Ia adalah ritual sosial yang melibatkan ratusan kendaraan mulai dari sepeda motor hingga becak yang beriringan menyusuri rute khas, Jalan Ahmad Yani, Jalan Diponegoro, Jalan Kartini, hingga Jalan Imam Bonjol.
Di atas kendaraan, para peserta membawa “senjata” berupa pistol air, gayung, atau ember. Di tepi jalan, warga menyiapkan tong-tong air sebagai “amunisi balasan”. Tak ada yang aman, dan tak ada yang marah.
Yang unik, justru toleransi yang mengalir bersama air. Polisi yang berjaga pun tak luput dari tembakan, namun mereka tersenyum, membiarkan diri basah demi kelancaran acara.
Di tengah tawa dan semburan air, tak ada sekat antara etnis, agama, atau status sosial. Semua larut dalam satu bahasa, kegembiraan.
Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kepulauan Meranti, Ratna Juwita, Cian Cui atau Perang Air bukan hanya tradisi, tapi juga aset.
“Tiap tahun, puluhan ribu wisatawan datang ke Selatpanjang. Dari Tiongkok, Malaysia, Singapura, Australia. Mereka pulang kampung demi festival ini,” ujarnya.
Meski kini identik dengan Imlek, Ratna menegaskan bahwa Cian Cui lahir dari kearifan lokal. Dahulu, masyarakat Meranti menyiram air saat Idul Fitri sebagai simbol sukacita.
Tradisi itu kemudian diadopsi dan dikemas ulang oleh komunitas Tionghoa, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Selatpanjang.
Demi keamanan, mereka melarang penggunaan botol kaca, es, atau pistol rakitan. Hanya kendaraan roda dua dan becak motor yang boleh melintasi rute. Di balik aturan itu, ada semangat untuk menjaga tradisi tetap hidup, aman, dan inklusif.
Cian Cui adalah bukti bahwa tradisi bisa tumbuh, beradaptasi, dan tetap relevan. Ia bukan hanya festival, tapi cermin jati diri masyarakat Selatpanjang yang hangat, terbuka, dan penuh semangat hidup.
Dalam setiap semburan air, tersimpan cerita tentang kebersamaan, toleransi, dan cinta pada tanah kelahiran.
Dan di tengah tawa yang pecah di jalanan, satu hal menjadi jelas, Selatpanjang tak pernah kehabisan cara untuk merayakan hidup.
Rute Menuju Selatpanjang
Selatpanjang adalah kota pesisir di Pulau Tebing Tinggi, dan hanya bisa diakses melalui jalur laut. Berikut rute yang bisa ditempuh.
Dari ibu kota Provinsi Riau, Pekanbaru, bisa menumpang kapal cepat dari Pelabuhan Sungai Duku dengan waktu tempuh sekitar 6-7 jam dengan tarif kapal sekitar Rp 235 ribu.
Jika ingin lebih murah bisa menumpang KM Jelatik, kapal kayu dengan waktu tempuh sekitar 16 jam dengan tarif kapal sekitar Rp 162 ribu.
Jika berangkat dari Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, bisa menumpang kapal dari Pelabuhan Sekupang dengan waktu tempuh sekitar 4 jam dan ongkos sekitar Rp 270 ribu.
Tarif kapal menuju Selatpanjang ini bisa berubah sewaktu-waktu.
Sumber: Tribunpekanbaru.com
