SMARTPEKANBARU – Harga Bitcoin (BTC) anjlok hingga 30 persen dari puncaknya dan membuat para trader yang memakai leverage kini terjebak dalam posisi merugi. Penurunan tajam ini bukan hanya memukul investor ritel, tetapi juga mengguncang pasar kripto global yang sebelumnya sempat reli ke level tertingginya tahun ini. Mengutip Bloomberg, Bitcoin yang sempat melampaui 126.000 dollar AS pada awal Oktober 2025, kini merosot hingga menyentuh 88.522 dollar AS pada perdagangan Rabu (19/11/2025) waktu New York atau Kamis WIB. Di tengah penurunan tersebut, lonjakan aktivitas spekulasi justru terjadi di bursa kripto luar negeri seperti Binance.
Open interest untuk kontrak Bitcoin perpetual futures, yang merupakan instrumen utama bagi trader dalam melakukan spekulasi dengan leverage, tercatat melonjak signifikan dalam sepekan terakhir.
Volume bertambah lebih dari 36.000 Bitcoin, dengan nilai ekuivalen sekitar 3,3 miliar dollar AS. Menurut laporan K33, lonjakan tersebut merupakan yang terbesar sejak April, menandakan peningkatan agresivitas trader dalam mengambil posisi meskipun pasar tengah berada dalam tekanan. Yang mengkhawatirkan, funding rate tetap positif dan meningkat, pertanda banyak trader tetap mempertahankan posisi beli (long) meski harga terus merosot. Dalam kondisi normal, funding rate akan berubah negatif saat harga turun karena para trader menutup posisi. Namun kali ini, trader justru menambah posisi dan memperbesar risiko kerugian. “Perpetual open interest sudah kembali ke puncak Oktober,” ujar Vetle Lunde, Head of Research K33. “Itu meningkatkan risiko short squeeze yang lebih besar ke depan,” lanjutnya. Banyak trader mencoba memanfaatkan penurunan harga Bitcoin dengan memasang limit order di bawah 98.000 dollar AS, berharap dapat membeli di level terendah dan memperoleh keuntungan saat harga memantul kembali. Namun alih-alih pulih, harga terus merosot sehingga pesanan tersebut tereksekusi ketika kondisi pasar justru sedang melemah.
Hal ini membuat para trader masuk ke posisi leverage pada waktu yang kurang tepat dan memperbesar risiko kerugian.
Kondisi rapuh ini bermula dari gelombang likuidasi besar yang terjadi pada 10 Oktober, ketika lebih dari 19 miliar dollar AS posisi derivatif dipaksa ditutup dalam satu hari. Peristiwa itu memicu keluarnya dana dari ETF kripto dan membuat institusi mengurangi eksposur mereka, sehingga pasar kehilangan salah satu penopang terbesarnya. K33 mencatat bahwa situasi serupa pernah terjadi tujuh kali di masa lalu. Dalam enam di antaranya, Bitcoin kembali melemah dengan rata-rata penurunan sekitar 15 persen dalam satu bulan. Saat ini, perbedaan sentimen antara pelaku pasar institusi dan ritel semakin jelas terlihat. Aktivitas di Chicago Mercantile Exchange (CME), yang biasanya menjadi barometer minat institusi, menurun, sementara bursa offshore seperti Binance justru mencatat peningkatan spekulasi dari trader ritel.
“Setelah likuidasi 10 Oktober, likuiditas pasar belum pulih,” kata Satraj Bambra, CEO Rails. “Tidak ada cukup pembeli baru untuk menyerap suplai, dan saat ini penjual jauh lebih banyak dibanding pembeli,” paparnya. Walau leverage tidak setinggi sebelum kejatuhan Oktober, indikator utama seperti open interest dan funding rate menunjukkan tekanan pasar masih kuat. Hingga kini, belum ada sinyal pemantulan harga yang meyakinkan.
Meskipun tingkat penggunaan leverage saat ini tidak setinggi periode sebelum kejatuhan pasar pada Oktober, beberapa indikator penting seperti open interest dan funding rate masih menunjukkan adanya tekanan besar di pasar kripto. Open interest yang tinggi mencerminkan banyaknya posisi spekulatif yang masih terbuka, sementara funding rate yang tetap positif menandakan dominasi posisi beli meski harga sedang turun.
Sumber : Kompas.com
