SMARTPEKANBARU.COM – Dana Bagi Hasil (DBH) sektor sawit dan kehutanan yang diterima Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) mengalami tren penurunan dalam tiga tahun terakhir.
Kondisi ini dikhawatirkan berdampak terhadap kemampuan daerah dalam membiayai pembangunan, terutama infrastruktur jalan.
Wakil Bupati Kuansing, Muhklisin, mengungkapkan pada 2024 Kuansing masih menerima DBH sawit sebesar Rp12 miliar.
“Namun pada 2025 angka itu turun menjadi Rp10,2 miliar dan diproyeksikan kembali turun drastis menjadi hanya Rp6 miliar pada 2026,” ungkap Muhklisin saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (24/11/2025).
Padahal, Kuansing memiliki potensi besar di sektor perkebunan sawit, dengan total luas mencapai 274 ribu hektare.
Hal serupa juga terjadi pada DBH kehutanan. Tahun 2024, Kuansing menerima Rp4 miliar.
Tapi pada 2025 hanya Rp3 miliar, dan kembali dipastikan mengalami penurunan di 2026.
Padahal, Kuansing memiliki kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) lebih dari 80 ribu hektare.
“Dengan potensi seluas itu, seharusnya pembagian DBH dilakukan secara lebih proporsional. Pemerintah daerah turut menanggung beban kerusakan jalan dan dampak lainnya,” kata Muhklisin.
Ia berharap pemerintah pusat segera meninjau ulang formula pembagian DBH agar daerah penghasil tidak terus dirugikan.
Sebab, Kuansing juga merupakan kabupaten penghasil sawit.
“Kuansing termasuk kabupaten penghasil sawit terbesar di Riau. Namun daerah hanya mendapatkan sedikit hasil dari situ,” ujar Muhklisin.
sumber ; tribunpekanbaru.com
