SMARTPEKANBARU.COM — Bupati Kuantan Singingi (Kuansing), Suhardiman Amby, menyoroti pentingnya pembangunan tanggul di wilayah hilir Sungai Kuantan seperti Kecamatan Inuman dan Cerenti guna meminimalisir dampak banjir tahunan yang kerap melanda kawasan tersebut.
Menurutnya, upaya penanggulangan banjir tidak bisa dilakukan setengah hati.
Oleh sebab itu, Pemkab Kuansing telah mengajukan proposal pembangunan tanggul ke pemerintah pusat.
“Setiap tahun, wilayah ini selalu kebanjiran. Bahkan rumah saya di Desa Pulau Panjang Hulu juga ikut terendam. Ketinggian air sempat mencapai satu meter,” ungkap Suhardiman kepada Tribunpekanbaru.com sambil menunjuk langsung rumah pribadinya.
Banjir yang terparah kata dia, terjadi di desa lainnya di Kecamatan Inuman seperti Desa Pulau Sipan.
Sebab, daratan Desa Pulau Sipan lebih rendah dari desa lainnya.
Suhardiman pun menegaskan pentingnya keseriusan pemerintah pusat dalam mendukung pembangunan tanggul sebagai solusi jangka panjang.
Menurutnya, banjir ini bukan sekadar peristiwa musiman. Katanya, bencana ini sudah menjadi siklus tahunan yang harus ditangani dengan infrastruktur.
Pembangunan tanggul diharapkan dapat menjadi benteng utama bagi masyarakat bagian hilir Kuantan dalam menghadapi bencana hidrometeorologi yang semakin ekstrem dari tahun ke tahun.
“Lebar dan ketinggian tanggul yang kita ajukan sudah dikaji dapat membendung banjir,” ujar Suhardiman.
Ia berharap Siklon Tropis 91S yang saat ini diprediksi melanda Sumatera Barat tidak turut memicu banjir besar di Kuansing.
Menurutnya, kondisi Sungai Kuantan masih terkendali selama sungai-sungai besar di hulu Sumbar seperti Ombilin, Sinamar, Palangki, dan Batang Sukam tidak meluap.
“Kita berharap, dampak banjir berkurang seiring waktu,” ujarnya.
Untuk menjaga daya dukung tanah dalam menyerap air, Suhardiman Amby pun mendorong penanaman pohon di DAS dan juga reboisasi dua hutan lindung di Kuansing, Hutan Lindung Bukit Betabuh dan Hutan Lindung Rimbang Baling.
Banjir Sudah Menjadi Peristiwa Rutin
Sementara itu, Kades Pulau Panjang Hilir, Emri Nofdiles, mengungkapkan bahwa banjir Sungai Kuantan sudah menjadi peristiwa rutin di desanya.
“Bagi kami, banjir sudah seperti hiburan setahun sekali. Seperti waterpark” ujarnya sambil tersenyum.
Meski terbiasa, warga tetap bersiaga setiap musim hujan.
Rumah-rumah yang tidak panggung atau bertingkat dua sudah dilengkapi dengan lantai papan darurat (alang-alang) yang bisa dibongkar pasang untuk menyelamatkan barang dan menjadi tempat tinggal sementara.
“Semua rumah punya sampan atau jalur sebagai alat transportasi. Siangnya ramai seperti biasa, tapi malam hari mencekam karena gelap dan listrik padam,” lanjut Emri.
sumber ; tribunpekanbaru.com
