SMARTPEKANBARU.COM – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau terus memperkuat langkah antisipasi menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi yang meningkat seiring curah hujan tinggi dalam beberapa pekan terakhir.
Setelah delapan kabupaten/kota di Riau lebih dulu menetapkan status siaga, Kabupaten Kampar dijadwalkan menggelar rapat penetapan status siaga darurat hidrometeorologi pada Rabu (10/12/2025).
Langkah ini merupakan tindak lanjut dari dorongan intensif Pemprov Riau, mengingat Kampar termasuk wilayah rawan banjir dan tanah longsor.
“Iya, infonya besok Kampar mau rapat penetapan status. Kami memang mendorong Kampar untuk segera menetapkan status siaga. Karena daerah ini cukup rawan,” ujar Kepala BPBD dan Damkar Provinsi Riau, M Edy Afrizal melalui Kabid Kedaruratan, Jim Ghafur, Selasa (9/12/2025).
Dengan rencana rapat penetapan status siaga di Kampar pada Rabu besok, Pemprov Riau berharap kesiapsiagaan di seluruh wilayah semakin solid, sehingga masyarakat dapat terlindungi secara maksimal di tengah ancaman bencana hidrometeorologi yang masih berpotensi terjadi hingga puncak musim hujan sampai awal tahun depan.
Sebab hujan dengan intensitas tinggi yang terus mengguyur sejumlah wilayah di Riau meningkatkan risiko luapan sungai, genangan, hingga longsor.
Merespons kondisi tersebut, sejauh ini sudah delapan kabupaten/kota yang menetapkan status siaga bencana hidrometeorologi. Delapan daerah itu adalah Kabupaten Rokan Hulu, Indragiri Hilir, Siak, Kuantan Singingi, Rokan Hilir, Bengkalis, Kota Dumai serta Pekanbaru.
Penetapan status siaga membuat seluruh unsur kebencanaan aktif penuh. Mulai dari kesiapan personel, peralatan, hingga sistem komando dan logistik.
“Status siaga ini penting agar penanganan bisa dilakukan cepat dan terkoordinasi. Kami sudah bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Baznas dan BNPB, menyiapkan perahu, tenda, logistik, hingga gudang penyimpanan. Semuanya sudah siap jika sewaktu-waktu dibutuhkan,” katanya.
Daerah Belum Tetapkan Status Siaga
Dari total 12 kabupaten/kota di Riau, masih terdapat beberapa daerah yang belum resmi menetapkan status siaga, yakni Kampar, Pelalawan, Indragiri Hulu, dan Kepulauan Meranti.
Namun, Kampar menjadi perhatian utama karena memiliki wilayah bantaran sungai yang luas serta berpotensi terdampak jika debit air meningkat.
Risiko tersebut dapat semakin besar apabila pintu Waduk PLTA Koto Panjang harus dibuka akibat tingginya curah hujan di hulu.
“Kalau hujan terus dan pintu waduk dibuka, debit air sungai akan naik. Ini sangat berpengaruh ke wilayah seperti Kampar dan Pelalawan,” jelas Jim.
Sementara untuk kabupaten Kepulauan Meranti informasi terbaru juga sudah menetapkan status siaga darurat hidrometeorologi namun SK penetapan nya belum diterima Pemprov Riau.
“Belum ada, sampai sore ini baru delapan daerah itu,” katanya.
Pemprov Riau menegaskan pentingnya penetapan status siaga sebelum bencana terjadi, agar langkah mitigasi berjalan lebih efektif dan dampak dapat ditekan sejak awal.
“Kami terus mengimbau daerah yang belum menetapkan status agar segera melakukannya. Jangan sampai bencana dulu yang datang, baru status siaga ditetapkan,” tegasnya.
Selain potensi banjir sungai, Pemprov juga mengingatkan daerah pesisir seperti Indragiri Hilir, Bengkalis, dan Dumai untuk mewaspadai banjir rob, meski biasanya terjadi dalam durasi singkat.
sumber ; tribunpekanbaru.com
