SMARTPEKANBARU – Indonesia dan Pakistan mencatat pertumbuhan perdagangan yang positif dengan minyak kelapa sawit menjadi komoditas utama dalam hubungan dagang kedua negara.
Dengan pertumbuhan yang positif, Indonesia dan Pakistan tengah merencanakan penguatan kemitraan.
Penguatan kemitraan tersebut menjadi hal yang dibahas antara Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti dan Menteri Perdagangan Pakistan H.E. Mr. Jam Kamal Khan di sela Pakistan Edible Oil Conference (PEOC) ke-8 di Karachi, Jumat (9/1/2026).
Pertemuan tersebut sekaligus menindaklanjuti kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Pakistan pada Desember 2025.
Pada 2024, nilai perdagangan bilateral Indonesia–Pakistan mencapai 4,1 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dengan pertumbuhan sebesar 24,07 persen.
Tren positif tersebut berlanjut pada 2025. Hingga November, total perdaganganbilateral telah melampaui 3,6 miliar dolar AS.
Perdagangan Indonesia-Pakistan didorong oleh kinerja ekspor RI yang dominan dan menghasilkan surplus perdagangan yang signifikan.
Stabilitas impor yang relatif terkendali turut memperkuat kualitas pertumbuhan perdagangan bilateral kedua negara.
Roro menyampaikan bahwa sejak Indonesia–Pakistan Preferential Trade Agreement (IP-PTA) berlaku pada 2013, perdagangan kedua negara meningkat lebih dari dua kali lipat hingga melampaui 4 miliar dolar AS.
Indonesia kini mendorong perluasan IP-PTA menjadi Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) yang ditargetkan dapat diwujudkan pada 2027.
Roro mengusulkan dimulainya perundingan teknis pada awal tahun ini.
Perkembangan Indonesia–Pakistan Trade in Goods Agreement (IP-TIGA) disiapkan sebagai basis negosiasi menuju CEPA.
“Perluasan kerja sama menuju CEPA akan memperkuat integrasi perdaganganbarang, jasa, dan investasi secara lebih komprehensif serta berkelanjutan,” kata Roro dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (10/1/2026).
Minyak Kelapa Sawit Komoditas Utama
Pertemuan bilateral ini juga menghasilkan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pembentukan Joint Trade Committee (JTC).
JTC akan menjadi forum reguler untuk membahas peningkatan perdaganganbilateral, promosi dagang, pertukaran informasi, pengembangan UMKM, serta penyelesaian isu standar dan hambatan perdagangan.
Penandatanganan MoU tersebut dilakukan menjelang kehadiran Wakil Menteri Perdagangan RI sebagai Chief Guest pada PEOC ke-8.
Peran Roro menegaskan sinergi erat antara kerja sama pemerintah dan pelaku usaha, khususnya di sektor minyak nabati dan industri berbasis pertanian.
Minyak kelapa sawit tercatat sebagai komoditas utama dalam perdaganganIndonesia dan Pakistan.
Pakistan merupakan tujuan ekspor minyak sawit Indonesia terbesar ketiga di dunia, dengan nilai impor mencapai 2,77 miliar dolar AS pada 2024 atau sekitar 12 persen dari total ekspor sawit Indonesia.
Indonesia menegaskan bahwa kebijakan mandatori biodiesel B50 tidak akan mengganggu pasokan minyak sawit ke Pakistan.
Pasokan sawit RI didukung kapasitas produksi dalam negeri yang besar dan tumbuh rata-rata sekitar 5 persen per tahun selama satu dekade terakhir.
Selain itu, Indonesia menyambut baik penandatanganan MoU Edukasi Publik Minyak Sawit antara GAPKI dengan Pakistan Edible Oil Refiners Association (PEORA) serta Pakistan Vanaspati Manufacturers Association (PVMA).
Kerja sama tersebut bertujuan mempromosikan informasi yang seimbang dan berbasis fakta mengenai minyak sawit berkelanjutan.
Indonesia juga mengapresiasi operasionalisasi D-8 Preferential Trade Agreement (PTA) oleh Pakistan sejak 1 Januari 2025.
Ke depan, Indonesia akan mendorong perluasan D-8 PTA menjadi CEPA sebagai salah satu prioritas utama selama Keketuaan Indonesia di D-8 periode 2026–2027 dengan dukungan Pakistan.
Isu Perdagangan Lain
Terkait isu perdagangan lainnya, Indonesia menyampaikan bahwa penyesuaian teknis sistem perizinan impor hortikultura saat ini tengah ditangani oleh tim terkait.
Sementara untuk MoU Perdagangan Beras, Indonesia menegaskan bahwa perjanjian belum dapat diperpanjang sejalan dengan arah kebijakan swasembada pangan nasional.
Pertemuan di Karachi ini menegaskan komitmen Indonesia dan Pakistan untuk memperdalam kemitraan perdaganganyang saling menguntungkan.
Selain itu, kemitraan perdagangan ini juga dapat makin adaptif terhadap dinamika global, serta berorientasi pada pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Sumber : Tribun News
