SMARTPEKANBARU.COM – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyangkal informasi dari sumber media yang menyebutkan bahwa komandan militer teratas AS menolak adanya kemungkinan perang dengan Iran.
Laporan dari berbagai media AS dan Israel menyebutkan bahwa Jenderal Dan Caine, Kepala Staf Gabungan, telah memberi peringatan kepada pemerintahan Trump agar tidak menyerang Iran, sesuai dengan ancaman yang telah dilontarkan Presiden AS dalam beberapa pekan terakhir. Seorang juru bicara dari Kepala Staf Gabungan menekankan bahwa tugas ketua adalah memberikan informasi kepada presiden, kepala Pentagon, dan Dewan Keamanan Nasional.
“berbagai pilihan militer, serta pertimbangan sekunder dan dampak serta risiko terkait, kepada para pemimpin sipil yang membuat keputusan keamanan Amerika.”
Diberitakan Al Arabiya, pejabat tersebut menambahkan bahwa ketua “memberikan opsi-opsi ini secara rahasia.”
“seperti kita semua, tidak ingin melihat perang, tetapi jika keputusan dibuat untuk melawan Iran di tingkat militer, menurut pendapatnya itu akan menjadi sesuatu yang mudah dimenangkan.”
Trump kemudian mengutip serangan AS musim panas lalu terhadap program nuklir Iran, yang diatur dan dilakukan di bawah pengawasan Caine.
Presiden AS mengklaim bahwa semua yang telah ditulis tentang potensi perang dengan Iran “telah ditulis secara tidak benar, dan memang sengaja demikian,” tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Dalam beberapa minggu terakhir, media arus utama Amerika telah melaporkan tentang potensi serangan AS terhadap Iran yang akan segera terjadi dan secara rinci. Seringkali, laporan tersebut menyimpulkan bahwa belum ada keputusan yang dibuat.
“Saya yang membuat keputusan, saya lebih suka ada kesepakatan daripada tidak, tetapi jika kita tidak membuat kesepakatan, itu akan menjadi hari yang sangat buruk bagi negara itu dan, sangat disayangkan, bagi rakyatnya, karena mereka hebat dan luar biasa, dan hal seperti ini seharusnya tidak pernah terjadi pada mereka,” ucap Trump di Truth Social.
“Razin Caine adalah petarung hebat, dan mewakili militer terkuat di dunia,” ujarnya.
Laporan Media AS
Washington Post melaporkan bahwa Jenderal Dan Caine pernah memberi tahu Trump beberapa hari lalu bahwa kurangnya amunisi dan dukungan dari sekutu regional di wilayah tersebut bisa menghalangi upaya Amerika Serikat untuk menahan kemungkinan balasan dari Iran jika terjadi serangan oleh Amerika Serikat.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa stok amunisi AS, termasuk yang digunakan dalam sistem pertahanan rudal, semakin berkurang karena digunakan untuk mendukung negara-negara sekutu seperti Israel dan Ukraina.
“Caine juga telah menyampaikan kekhawatiran tentang skala kampanye Iran, kompleksitas yang melekat di dalamnya, dan kemungkinan korban jiwa di pihak AS,” lapor surat kabar itu, mengutip seseorang yang mengetahui “diskusi internal” tentang masalah tersebut.
Kantor Caine menanggapi artikel The Washington Post dengan menyatakan bahwa ia bertugas menyediakan “berbagai opsi militer, serta pertimbangan sekunder dan dampak serta risiko terkait, kepada para pemimpin sipil yang membuat keputusan keamanan Amerika”.
Outlet berita online Axios, yang juga mengabarkan kekhawatiran Caine saat berdiskusi dengan Trump, menyebut dalam artikel yang dirilis Senin malam bahwa Caine adalah satu-satunya figur militer yang memberikan informasi kepada Trump mengenai Iran dalam beberapa minggu terakhir.
Media ini juga menginformasikan bahwa kepala Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, yang bertugas memantau operasi militer AS di kawasan Timur Tengah, belum mendapat undangan untuk pertemuan atau berbicara dengan Trump sejak bulan Januari. Sementara itu, Trump telah memikirkan tentang kemungkinan serangan terhadap Iran selama beberapa minggu, dengan mengerahkan sejumlah besar pasukan AS di Timur Tengah sebagai persiapan untuk kemungkinan konflik yang bisa menimbulkan kekacauan di seluruh wilayah tersebut.
Iran tidak memberikan ancaman nyata kepada AS, dan serangan yang dilakukan tanpa provokasi bakal melanggar hukum internasional. Iran telah mengungkapkan harapannya agar negosiasi dapat memberikan hasil, tetapi menolak apa yang dianggapnya sebagai tuntutan maksimalis dari AS terkait isu-isu pengayaan nuklir, rudal balistik, serta dukungan untuk kelompok proksi regional. Para pengamat menggaris bawahi bahwa banyak dari tuntutan Washington terhadap Teheran selaras dengan kepentingan Israel.
Sumber: Tribunnews.com
