SMARTPEKANBARU.COM – Fenomena ketahanan tubuh manusia saat menjalani ibadah puasa selama 12 hingga 14 jam sering kali memicu pertanyaan mengenai kecukupan energi dan stabilitas gula darah. Banyak yang khawatir tubuh akan mengalami malfungsi akibat absennya asupan makanan dan minuman dalam durasi belasan jam. Namun, dunia medis menegaskan bahwa tubuh manusia telah dirancang dengan mekanisme adaptasi yang luar biasa cerdas untuk menghadapi kondisi tersebut tanpa gangguan kesehatan yang berarti.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Ginjal Hipertensi, dr. Yulia Wardhani, Sp.PD, Subsp. GH. (K), menjelaskan bahwa durasi puasa di iklim tropis seperti Indonesia umumnya berkisar di angka 12 jam. Dalam kurun waktu tersebut, tubuh mengalami serangkaian perubahan hormonal dan metabolisme yang terkontrol. Menariknya, bagi individu yang sehat, perubahan ini justru bersifat fisiologis yang memberikan dampak menguntungkan bagi sistem internal tubuh.
Salah satu kekhawatiran utama adalah kondisi “kekurangan gula” akibat nihilnya asupan glukosa dari luar. Dr. Yulia memaparkan bahwa saat pasokan glukosa eksternal berhenti, tubuh secara otomatis beralih mencari sumber energi dari dalam. “Tubuh akan mencari asupan glukosa yang tersedia secara mandiri di dalam sistem internal kita,” ungkapnya dalam agenda edukasi kesehatan Kementerian Kesehatan, Rabu (25/2/2026).
Sumber energi cadangan utama yang digunakan tubuh berasal dari simpanan glukosa dalam hati atau liver. Organ hati memiliki kemampuan menyimpan stok gula darurat yang cukup untuk memenuhi kebutuhan energi selama periode 12 hingga 14 jam. Hal ini membuktikan bahwa tubuh tidak akan langsung menguras cadangan lemak dalam jumlah besar, melainkan menggunakan sistem manajemen energi yang sangat efisien dan terukur selama periode puasa berlangsung.
Terkait aspek hidrasi, dr. Yulia menekankan bahwa yang berubah saat puasa bukanlah volume kebutuhan cairan, melainkan “jendela waktu” pemenuhannya. Risiko dehidrasi hanya akan muncul jika pengaturan asupan cairan pada waktu berbuka, sebelum tidur, hingga sahur tidak dikelola dengan baik. Dengan pengaturan yang tepat, tubuh tetap mampu menjaga keseimbangan cairan meskipun tidak ada asupan yang masuk selama matahari masih terbit.
Meskipun mekanisme adaptasi ini berlaku secara umum, respons tubuh tetap dipengaruhi oleh faktor usia, mulai dari anak-anak hingga lansia. Pada kelompok usia tertentu, kecepatan adaptasi hormonal mungkin lebih lambat sehingga memerlukan perhatian ekstra dalam pengaturan nutrisi dan cairan. Secara keseluruhan, tubuh manusia yang sehat secara alami telah “terprogram” untuk mampu bertahan dan berfungsi normal selama puasa 12 jam, asalkan didukung dengan pola asuh nutrisi yang tepat saat jendela makan terbuka.
Sumber : Tribun
