SMARTPEKANBARU.COM – Suasana sore di Kota Pekanbaru sepanjang Ramadan selalu diwarnai dengan fenomena khas pasar takjil yang menjamur di berbagai sudut kota. Mulai dari pinggir jalan protokol, halaman ruko, hingga pelataran masjid, para pedagang menawarkan aneka hidangan berbuka seperti es buah, kolak, gorengan, hingga makanan siap saji yang menjadi buruan utama warga menjelang waktu magrib.
Menyikapi antusiasme tinggi tersebut, Pengamat Kesehatan Riau, dr. Wildan Asfan Hasibuan, memberikan peringatan agar masyarakat tidak abai terhadap faktor keamanan pangan. Beliau mengimbau warga untuk lebih teliti dan tidak hanya tergoda oleh tampilan makanan yang menarik, mengingat jaminan kesehatan dari apa yang dikonsumsi adalah hal yang paling utama selama menjalankan ibadah puasa .
Aspek higienitas menjadi poin utama yang disoroti, mulai dari proses pengolahan bahan baku hingga teknik penyajian kepada pembeli. Dr. Wildan menekankan bahwa tempat produksi, peralatan yang digunakan, serta kebersihan personal pedagang harus benar-benar terjaga. Standar kebersihan ini sangat krusial untuk memastikan makanan yang sampai ke tangan konsumen dalam kondisi aman dan layak konsumsi.
Secara khusus, beliau memperingatkan pedagang agar menjauhi penggunaan bahan berbahaya seperti boraks, formalin, maupun pewarna tekstil yang berisiko fatal bagi kesehatan. Masyarakat diminta waspada jika menemukan makanan dengan warna yang terlalu mencolok atau tidak wajar, karena pewarna makanan yang aman umumnya memiliki warna yang lebih lembut dan natural dari sumber tumbuh-tumbuhan.
Selain masalah bahan, cara penyajian di area terbuka juga menjadi perhatian penting guna menghindari kontaminasi debu dan asap kendaraan. Pedagang disarankan untuk menutup makanan dengan plastik bening dan menggunakan alat bantu seperti penjepit atau sarung tangan plastik saat melayani pembeli. Langkah sederhana ini dinilai sangat efektif dalam menjaga kebersihan makanan tanpa mengurangi estetika dagangan.
Terakhir, dr. Wildan mendorong peran aktif pemerintah melalui dinas kesehatan dan puskesmas untuk melakukan pengawasan serta pembinaan terhadap para pedagang musiman. Beliau berpesan bahwa meski mencari keuntungan adalah hal yang wajar, namun tanggung jawab terhadap kesehatan dan keselamatan konsumen harus tetap menjadi prioritas utama bagi setiap pelaku usaha kuliner Ramadan.
Sumber : Tribun Pekanbaru
