SMARTPEKANBARU.COM — Tragedi kekerasan yang menimpa seorang mahasiswi di Riau akibat konflik asmara menjadi alarm keras bagi masyarakat, terutama mengenai fenomena toxic relationship di kalangan Generasi Z. Kasus ini memicu diskusi mendalam tentang pentingnya literasi emosional dalam menjalin hubungan di era digital yang serba instan.
Psikiater dr. Lahargo Kembaren mengungkapkan bahwa maraknya kekerasan dalam hubungan pemuda saat ini berakar dari hilangnya figur teladan (role model) dalam membangun relasi yang sehat. Menurutnya, Gen Z yang tumbuh dengan validasi media sosial sering kali terjebak pada kedekatan yang terasa cepat namun dangkal secara emosional. Hal ini membuat batas antara cinta yang matang dan kontrol yang manipulatif menjadi bias.
“Validasi online melalui interaksi digital membuat banyak anak muda sulit membedakan mana hubungan yang memberdayakan dan mana yang melelahkan secara emosional. Relasi yang sehat seharusnya memberikan rasa aman dan ruang untuk bertumbuh, bukan ancaman,” ungkap dr. Lahargo, Selasa (3/3/2026).
Ada empat pilar utama relasi sehat yang perlu dipahami: penghormatan terhadap batasan pribadi (boundaries), kebebasan menjadi diri sendiri, penyelesaian konflik tanpa ancaman, serta kemandirian emosional. Hubungan yang didasari pada ketergantungan ekstrem sering kali menjadi pintu masuk bagi perilaku posesif dan kontrol yang tidak sehat, yang dalam tahap ekstrem dapat berujung pada kekerasan fisik.
Menanggapi fenomena ini, peran keluarga diposisikan sebagai benteng pertahanan utama. Rumah harus menjadi “sekolah pertama” bagi anak untuk mengenal konsep cinta yang menghargai. Orang tua dituntut tidak hanya menjadi penasihat, tetapi juga model nyata dalam menunjukkan cara berkomunikasi yang dewasa, menyelesaikan konflik dengan tenang, dan memiliki keberanian untuk meminta maaf atas kesalahan.
Membangun harga diri (self-esteem) sejak dini pada anak juga krusial agar mereka memiliki standar kesehatan mental yang kuat. Anak yang menghargai dirinya sendiri cenderung tidak akan mengemis perhatian atau terjebak dalam hubungan yang abusif. Dengan penguatan regulasi emosi dari rumah, diharapkan generasi muda Riau memiliki ketahanan psikologis yang lebih baik dalam menghadapi dinamika sosial di masa depan.
Sumber : Tribun
