SMARTPEKANBARU.COM- Menjaga kebugaran tubuh saat menjalankan ibadah puasa sering kali menjadi dilema bagi banyak orang. Antara keinginan untuk tetap aktif dan keterbatasan energi, sering muncul keraguan apakah rasa lelah yang dirasakan saat berolahraga masih dalam batas wajar atau sudah berbahaya. Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga RS Pondok Indah Bintaro Jaya, dr. Risky Dwi Rahayu, M.Gizi, Sp.K.O, menekankan bahwa memahami sinyal tubuh adalah kunci utama agar aktivitas fisik tetap memberikan manfaat tanpa risiko cedera atau gangguan kesehatan yang serius.
Menurut dr. Risky, rasa lelah saat berolahraga dalam kondisi berpuasa merupakan hal yang lumrah. Tubuh manusia secara alami sedang melakukan penyesuaian terhadap perubahan pola asupan nutrisi dan cairan yang terbatas sepanjang hari. Dalam fase adaptasi ini, tubuh tetap bisa diajak beraktivitas selama beban yang diberikan tidak melampaui kapasitas cadangan energi yang tersedia, sehingga penting bagi setiap individu untuk mengenali kategori kelelahan mereka.
Kelelahan yang masih tergolong normal biasanya ditandai dengan napas yang memburu namun individu tersebut tetap mampu berbicara dengan lancar. Selain itu, tanda lainnya adalah munculnya keringat ringan dan kondisi fisik yang dapat pulih kembali ( recovery ) dalam waktu singkat, yakni sekitar 5 hingga 10 menit setelah beristirahat. Jika setelah rehat sejenak napas kembali stabil dan tubuh terasa lebih segar, maka aktivitas tersebut masih berada dalam zona aman bagi penyandang puasa.
Namun, masyarakat diminta untuk sangat waspada jika muncul gejala yang mengarah pada kelelahan ekstrem atau berbahaya. Tanda-tanda peringatan dari tubuh ini meliputi rasa pusing yang hebat, penglihatan yang tiba-tiba menjadi gelap, hingga detak jantung yang berdebar tidak beraturan. Jika gejala tersebut muncul disertai mual dan keringat dingin, dr. Risky menyarankan untuk segera menghentikan aktivitas olahraga saat itu juga guna menghindari risiko pingsan atau komplikasi lebih lanjut.
Kondisi dehidrasi menjadi faktor risiko terbesar yang dapat memperparah kelelahan saat berolahraga di bulan Ramadan. Karena tubuh tidak mendapatkan suplai cairan selama belasan jam, beban fisik yang terlalu berat akan memaksa jantung dan sistem metabolisme bekerja ekstra keras. Tanpa penanganan yang cepat saat gejala berbahaya muncul, tubuh bisa mengalami syok karena kekurangan cairan dan energi secara drastis di tengah cuaca yang panas.
Sebagai langkah pencegahan, dr. Risky menyarankan pemilihan jenis olahraga dengan intensitas sedang dan durasi yang tidak lebih dari 60 menit. Sangat direkomendasikan untuk menghindari aktivitas fisik di bawah paparan sinar matahari langsung untuk meminimalisir penguapan cairan tubuh. Dengan teknik dan pemilihan waktu yang tepat, seperti menjelang waktu berbuka, aktivitas olahraga tetap dapat dijalankan secara aman dan memberikan kebugaran maksimal selama bulan suci.
Sumber : Tribun
