SMARTPEKANBARU.COM- Stroke merupakan kondisi medis kritis yang terjadi akibat terganggunya pasokan oksigen dan nutrisi ke otak, baik disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah maupun perdarahan spontan. Dokter Spesialis Neurologi dari RSUD Bung Karno Surakarta, dr. Galuh Candrasari, Sp.N, menjelaskan bahwa dampak yang dialami pasien stroke sangat bervariasi karena sangat bergantung pada area otak yang mengalami kerusakan. Secara fisiologis, otak memiliki pembagian fungsi yang sangat spesifik, di mana area tertentu mengontrol kemampuan bahasa, sementara bagian lainnya mengatur keseimbangan dan sistem motorik tubuh.
Sistem persarafan manusia bekerja secara silang, di mana hemisfer otak bagian kanan mengatur pergerakan tubuh sisi kiri, dan begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, ketika serangan stroke terjadi pada salah satu lobus otak, gejalanya akan segera bermanifestasi pada fungsi organ yang dikendalikannya. Sebagai contoh, jika gangguan terjadi pada area pusat bahasa, pasien akan mengalami kesulitan berbicara atau komunikasi yang kacau, meskipun fungsi motoriknya mungkin masih tampak normal. Pemahaman mengenai lokalisasi fungsi otak ini menjadi kunci dalam mendiagnosis tingkat keparahan serangan.
Mengingat sel-sel otak mulai mengalami kematian hanya dalam hitungan menit setelah pasokan darah terhenti, masyarakat diimbau untuk mengenali tanda-tanda awal serangan secara cepat. Pemerintah melalui instansi kesehatan telah mempopulerkan akronim ‘SEGERA KE RS’ sebagai panduan deteksi dini yang mudah diingat. Gejala tersebut meliputi senyum yang tidak simetris (mencong), gerakan anggota tubuh yang melemah secara tiba-tiba pada satu sisi, serta gangguan bicara atau cadel yang muncul mendadak.
Selain gejala fisik pada wajah dan alat gerak, tanda bahaya lainnya mencakup munculnya rasa kebas atau kesemutan di satu sisi tubuh, gangguan penglihatan yang terjadi secara tiba-tiba (rabun mendadak), hingga serangan sakit kepala hebat yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Pengenalan dini terhadap rentetan gejala ini sangat krusial, karena efektivitas penanganan medis sangat bergantung pada kecepatan tindakan. Semakin cepat gejala diidentifikasi, semakin besar peluang jaringan otak yang tersisa dapat diselamatkan dari kerusakan permanen.
Dalam dunia medis, penanganan stroke mengenal istilah “Golden Period” atau periode emas, yakni rentang waktu kurang dari 4,5 jam sejak gejala pertama muncul. Tindakan medis yang dilakukan dalam durasi ini memiliki signifikansi yang sangat besar dalam menentukan tingkat pemulihan pasien serta meminimalisir risiko kecacatan jangka panjang maupun kematian. Kecepatan membawa pasien ke fasilitas kesehatan yang memiliki fasilitas penanganan stroke lengkap adalah langkah preventif utama yang harus diambil oleh pihak keluarga.
Sebagai upaya jangka panjang, pengelolaan faktor risiko tetap menjadi strategi pencegahan stroke yang paling efektif. Penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes melitus, dan kadar kolesterol tinggi harus dikelola secara disiplin melalui modifikasi pola hidup. Penerapan diet rendah garam, aktivitas fisik secara rutin, serta penghentian kebiasaan merokok merupakan langkah fundamental yang dapat dilakukan masyarakat untuk menurunkan risiko terjadinya sumbatan maupun pecahnya pembuluh darah di otak.
Sumber : Tribun
