SMARTPEKANBARU.COM – Di tengah upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau yang sedang mematangkan langkah-langkah strategis untuk penghematan energi akibat dampak situasi konflik global, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Riau turut mengimbau masyarakat agar mulai menerapkan pola hidup hemat energi.
Kondisi geopolitik internasional yang tidak stabil dinilai berpotensi memengaruhi sektor energi, sehingga diperlukan kesadaran bersama, baik dari pemerintah maupun masyarakat, dalam menyikapi situasi tersebut secara bijak.
Pemprov Riau sendiri tengah merancang kebijakan penerapan sistem kerja dari rumah atau work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) sebagai salah satu bentuk efisiensi penggunaan energi.
Kebijakan ini diperkirakan akan segera diberlakukan dalam waktu dekat, namun pelaksanaannya masih menunggu petunjuk teknis resmi dari pemerintah pusat agar dapat berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, menegaskan bahwa penerapan WFH tidak boleh mengganggu kualitas pelayanan publik. Ia menekankan bahwa meskipun ASN bekerja dari rumah, tanggung jawab dalam memberikan layanan kepada masyarakat tetap harus dijalankan secara optimal tanpa penurunan kinerja.
“Jadi nanti hari Jumat itu, pegawai kerjanya melalui Zoom saja. Pelayanan kepada masyarakat harus tetap jalan.” Selain itu, ia juga meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) untuk melakukan evaluasi secara berkala apabila kebijakan ini telah diterapkan.
Evaluasi tersebut dianggap penting untuk memastikan bahwa tujuan utama kebijakan, khususnya dalam hal penghematan energi, dapat tercapai secara efektif tanpa mengurangi produktivitas kerja.
Sebagai bagian dari strategi penghematan energi yang lebih luas, Pemprov Riau juga menyiapkan berbagai langkah konkret di lingkungan perkantoran.
Salah satu langkah yang direncanakan adalah pembatasan penggunaan listrik, termasuk pengaturan penggunaan pendingin ruangan (AC) dan penerangan di kantor-kantor OPD.
SF Hariyanto mengimbau agar penggunaan AC dan lampu di kantor dimatikan selama akhir pekan, yakni mulai Jumat hingga Minggu, guna mengurangi konsumsi energi secara signifikan.
Sementara itu, pada hari kerja, penggunaan AC tetap diperbolehkan namun diharapkan dilakukan secara lebih bijak dan efisien sesuai kebutuhan. Tidak hanya itu, penggunaan kendaraan dinas juga akan dibatasi selama penerapan kebijakan WFH.
Kendaraan dinas diminta untuk tidak digunakan sementara waktu dan tetap berada di bawah tanggung jawab masing-masing pejabat atau pegawai yang ditunjuk, sebagai bentuk penghematan bahan bakar minyak (BBM).
Menurut SF Hariyanto, kebijakan WFH ini merupakan salah satu langkah strategis pemerintah daerah dalam mendukung efisiensi penggunaan energi, terutama di tengah tekanan global yang berpengaruh terhadap fluktuasi harga minyak dunia.
Menanggapi kebijakan tersebut, anggota DPRD Riau, Abdullah, turut menyampaikan imbauan kepada masyarakat agar ikut berperan aktif dalam menghemat energi.
Hal ini dinilai penting mengingat dampak dari konflik internasional, khususnya perang antara Iran dan Israel-AS yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah, berpotensi memengaruhi stabilitas energi global.
Imbauan tersebut disampaikan Abdullah setelah Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto, menyampaikan pesan serupa dalam apel perdana pasca Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah pada Senin (30/3/2026).
Ia menilai bahwa dalam kondisi saat ini, masyarakat Indonesia secara umum perlu meningkatkan kesadaran dalam penggunaan energi secara lebih efisien.
Menurutnya, langkah penghematan energi yang dilakukan oleh pemerintah pusat merupakan bentuk antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya kelangkaan energi akibat situasi global yang tidak menentu. Oleh karena itu, partisipasi masyarakat menjadi faktor penting dalam mendukung kebijakan tersebut.
“Iya, semua harus melakukan penghematan. Kami di DPRD juga menyampaikan itu untuk melakukan penghematan-penghematan seperti yang juga dilakukan oleh DPR RI dalam hal konsumsi energi, listrik,” ujar Abdullah.
Sebagai Sekretaris Fraksi PKS DPRD Riau, Abdullah juga menjelaskan bahwa penghematan energi dapat dimulai dari lingkungan rumah tangga. Masyarakat diimbau untuk mengurangi penggunaan gas, listrik, serta bahan bakar minyak secara berlebihan, dan mulai menerapkan kebiasaan hemat energi dalam kehidupan sehari-hari.
“Dalam kondisi ini, semua orang diharapkan agar mengurangi pemakaian energi ini,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa potensi kenaikan harga minyak dunia sangat mungkin terjadi apabila konflik internasional terus berlanjut dan semakin memanas.
Oleh sebab itu, langkah penghematan energi menjadi penting sebagai bentuk kesiap siagaan dalam menghadapi kemungkinan tersebut. “Jadi hemat energi ini untuk antisipasi saja,” jelasnya.
Dengan berbagai langkah yang telah direncanakan dan imbauan yang disampaikan, diharapkan seluruh elemen, baik pemerintah maupun masyarakat, dapat bersinergi dalam menghemat energi.
Upaya ini tidak hanya bertujuan untuk menghadapi dampak jangka pendek dari situasi global, tetapi juga sebagai langkah strategis dalam menciptakan pola konsumsi energi yang lebih efisien dan berkelanjutan di masa depan.
Sumber: TribunPekanbaru.com
