SMARTPEKANBARU.COM , PEKANBARU – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau melalui Dinas Kesehatan merilis potret epidemiologi penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang terakumulasi selama 28 tahun terakhir. Berdasarkan data periode 1997 hingga 2025, tercatat sebanyak 11.336 kasus HIV ditemukan di Bumi Lancang Kuning, di mana 6.990 orang di antaranya dilaporkan masih bertahan hidup. Tren ini menunjukkan tantangan serius bagi sektor kesehatan publik mengingat sebanyak 4.480 penderita di antaranya telah memasuki stadium klinis AIDS.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, dalam keterangannya pada Kamis (2/4/2026), mengungkapkan bahwa angka temuan kasus cenderung mengalami eskalasi signifikan dalam satu dekade terakhir. Lonjakan tajam terlihat mulai tahun 2023 dengan 1.001 kasus, yang terus meningkat hingga mencapai angka tertinggi pada tahun 2025 dengan 1.051 kasus baru. Akumulasi data ini menjadi basis bagi pemerintah untuk memperkuat strategi mitigasi dan intervensi medis di seluruh wilayah kabupaten/kota.
Secara geografis, distribusi kasus tersebar di seluruh daerah di Riau, namun Kota Pekanbaru mencatatkan angka prevalensi yang sangat dominan. Ibu kota provinsi ini menyumbang sebesar 58,20 persen dari total kasus, atau setara dengan 6.598 orang. Sebaran signifikan lainnya ditemukan di Kabupaten Bengkalis dengan 951 kasus, diikuti Kota Dumai 855 kasus, Kabupaten Pelalawan 596 kasus, Rokan Hilir 556 kasus, dan Indragiri Hilir 477 kasus.
Dinas Kesehatan Riau juga merinci sebaran di wilayah lain untuk memastikan jangkauan program pengobatan merata. Tercatat di Kabupaten Siak sebanyak 327 kasus, Rokan Hulu 265 kasus, Kepulauan Meranti 223 kasus, Indragiri Hulu 213 kasus, Kampar 170 kasus, hingga Kuantan Singingi yang mencatatkan angka terendah yakni 105 kasus. Pemetaan ini krusial untuk menentukan prioritas alokasi sumber daya kesehatan dan ketersediaan obat-obatan di masing-masing teritorial.
Menyikapi fenomena ini, Dinas Kesehatan Provinsi Riau mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan melalui penguatan edukasi tentang penyakit menular. Masyarakat ditekankan untuk menghindari perilaku seksual berisiko dan penggunaan jarum suntik secara bergantian. Selain itu, skrining rutin bagi kelompok rentan serta penggunaan pengaman menjadi langkah preventif yang terus disosialisasikan guna memutus rantai penularan di tengah masyarakat.
Zulkifli menegaskan pentingnya akses pengobatan bagi mereka yang telah terinfeksi melalui terapi Antiretroviral (ARV). Terapi ini sangat vital untuk menjaga kualitas hidup penderita sekaligus menekan laju replikasi virus. Pihaknya berharap dengan peningkatan kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini, angka kematian akibat AIDS dapat ditekan seminimal mungkin melalui penanganan medis yang tepat dan berkelanjutan.
Sumber : Media Center Riau
