SMARTPEKANBARU.COM – Pemerintah Provinsi Riau saat ini tengah melakukan pendataan terhadap warga yang bermukim di kawasan hutan lindung Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Kepala Dinas Perkebunan Riau, Syahrial Abdi, mengimbau warga agar kooperatif dalam mendukung proses tersebut guna memperoleh data akurat terkait jumlah penduduk dan luas lahan yang dikuasai.
Hal ini dilakukan untuk mengetahui secara pasti dan aktual berapa banyak warga yang tinggal dikawasan TNTN dan berapa luasan lahan yang mereka miliki.
Penegasan ini disampaikan Syahrial Abdi menyusul adanya sejumlah warga yang terang-terangan menolak untuk didata oleh petugas.
“Seperti di Desa Kesuma itu banyak warganya yang menolak, jadi kami mohon kerjasamanya supaya mereka mau didata, kalau tidak nanti solusinya tidak bisa dicarikan,” katanya.
Syahrial mengungkapkan, proses pendataan sudah berlangsung sejak 27 Juni lalu.
Pendataan ini ini ditargetkan selesai dalam satu bulan.
“Saat ini proses pendataan masih berlangsung, kami memberikan waktu kepada pemerintah kabupaten Pelalawan selama satu bulan, dimulai tanggal 27 Juni lalu, dan harus selesai 27 Juli, artinya masih ada waktu lebih kurang 7 hari lagi,” ujarnya.
Syahrial, menegaskan pendataan warga dan luasan kebun yang dimiliki serta identitas kependudukan dan jumlah keluarga dalam satu kepala keluarga sangat dibutuhkan untuk mengambil langkah berikutnya.
Sebab dengan data yang akurat, pihaknya bersama tim satgas baru dapat mengambil langkah berikutnya.
Termasuk rencana relokasi dan opsi transmigrasi lokal seperti yang diwacanakan oleh Gubernur Riau Abdul Wahid.
“Kita ingin keputusan yang diambil nanti bisa memenuhi azas keadilan bagi semua. Baik bagi masyarakat, bagi gajah dan bagi hutan sebagai paru-paru dunia,” katanya.
Sebelumnya, Komandan Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (TNTN), Mayjen TNI Dody Triwinarto mengimbau kepada warga yang kuasai lahan di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), tak terprovokasi.
Terlebih kepada isu-isu yang tidak benar.
“Dalam kesempatan ini saya mengajak dan mengimbau kepada saudara-saudara saya yang ada di dalam TNTN, tidak usah takut, tidak usah terprovokasi, pelan-pelan. Apapun alasannya, itu adalah Taman Nasional Tesso Nilo yang harus kita pulihkan,” tegas Mayjen Dody saat diwawancarai usai kegiatan serah terima lahan kebun sawit 415 hektare dari kelompok petani ke negara, lewat Satgas PKH, Kamis (17/7/2025).
“Sehingga harapan kita dengan penuh kesadaran (serahkan kembali lahan ke negara), yakinlah negara akan memberikan solusi kepada warga atau saudara-saudara saya yang hidup di dalam (TNTN),” tambahnya.
Mayjen Dody mengungkapkan, solusi terbaik tentunya akan diberikan kepada warga yang hidup di dalam TNTN. Maka dalam hal ini perlu pendataan secara valid. Ia pun meminta kepada warga, agar bisa memberikan kesempatan Satgas PKH bekerja dengan baik.
“Agar kita bisa memilah dan memilih persoalan yang di dalam. Karena persoalan yang ada tidak bisa kita (tangani) secara kolektif, tidak bisa kita generalisasi, semuanya direlokasi, tidak. Karena ada yang memang dia kembali dengan penuh kesadaran karena dia pekerja musiman, ada yang dia sudah jual harta di kampung untuk tinggal di TNTN, itu yang harus kita pilah-pilah kan,” urainya.
Sebagaimana diketahui, Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) adalah sebuah kawasan konservasi paling penting di Pulau Sumatra, terletak di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hulu, Provinsi Riau.
Kawasan ini menyimpan kekayaan alam luar biasa dan menjadi habitat terakhir bagi beberapa spesies langka.
Keanekaragaman Hayati di TNTN
TNTN merupakan hutan hujan tropis dataran rendah yang memiliki:
- 360 jenis flora dari 165 marga dan 57 suku
- 107 jenis burung, 23 mamalia, 3 primata
- 50 jenis ikan, 15 reptil, dan 18 amfibi
- Habitat penting bagi gajah Sumatra dan harimau Sumatra, dua spesies yang sangat terancam punah
TNTN Awalnya ditetapkan sebagai taman nasional pada tahun 2004 dengan luas mencapai lebih kurang 83.068 hektare. Namun sebagian besar telah mengalami degradasi akibat pembalakan liar dan ekspansi kebun sawit.
Pemerintah membentuk Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) untuk merebut kembali lahan dan melakukan revitalisasi dan baru-baru ini, ribuan warga melakukan aksi demonstrasi menolak relokasi dari kawasan TNTN.
Sumber :Tribunpekanbaru.com
