SMARTPEKANBARU – Bank Indonesia (BI) akan merilis instrumen operasi moneter valuta asing dalam mata uang yuan atau renminbi (CNY) dan yen Jepang. Hal ini dilakukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dan mata uang negara berkembang masih tinggi seiring ketidakpastian global. Indeks dollar AS (DXY) terus menguat, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor panjang juga tetap berada di level tinggi. Kondisi ini mendorong terjadinya risk off di pasar keuangan emerging market.
“Ini juga mengakibatkan inflow yang masuk di emerging market itu juga terbatas. Sehingga kalau kita lihat apa yang terjadi dengan rupiah dan beberapa mata uang di regional saat ini, memang khususnya sejak Oktober sampai saat ini terus mengalami pelemahan,” ujarnya saat konferensi pers, Rabu (19/11/2025).
Sejak awal Oktober hingga pertengahan Kuartal IV, rupiah melemah sekitar 0,48 persen. Sejumlah mata uang regional juga terdepresiasi, seperti peso Filipina 1,34 persen dan baht Thailand 0,21 persen, sementara won Korea bahkan melemah 4,25 persen.
Meski begitu, volatilitas masih sangat tinggi, terlihat dari penguatan harian rupiah sebesar 0,21 persen, Filipina 0,25 persen, dan Thailand 0,11 persen pada perdagangan Rabu kemarin. Untuk meredam gejolak tersebut, BI sendiri telah melakukan berbagai macam intervensi di berbagai instrumen, mulai dari pasar non-deliverable forward (NDF) offshore, NDF domestik untuk keperluan hedging, hingga transaksi spot. Namun, BI menilai intervensi tersebut belum cukup ampuh menjaga stabilitas rupiah.
Oleh karena itu, BI memperdalam pasar valas domestik melalui pengembangan instrumen baru. Salah satunya adalah rencana pembukaan operasi moneter valuta asing dalam mata uang yuan dan yen. “Kita akan memperluas instrumen operasi moneter valas yang tentunya nanti akan mendukung untuk pasar valas kita, yaitu BI akan membuka instrumen operasi moneter valas dalam currency yuan atau renminbi atau CNY dan yen,” ungkapnya.
Destry mengatakan bahwa pembukaan instrumen operasi moneter baru dalam mata uang yuan dan yen ini seiring tingginya permintaan terhadap kedua mata uang tersebut.
Salah satunya seiring Local Currency Transaction (LCT) antara Indonesia dengan China yang terus mengalami peningkatan.
“Sekarang LCT kita dengan China itu terus mengalami peningkatan, dalam satu bulan itu bisa 1 miliar dollar AS. Selama ini bank mungkin kesulitan untuk mencari renminbi ataupun CNY di dalam kita,” ucapnya. Dengan dibukanya instrumen operasi moneter dalam yuan, perbankan akan lebih mudah memperoleh likuiditas CNY dan mengurangi ketergantungan pada dollar AS. Destry menambahkan bahwa perkembangan LCT Indonesia-China meningkat pesat. Pada Oktober 2025, volumenya tumbuh 1,6 kali lipat dibandingkan total transaksi sepanjang 2024.
Jumlah pesertanya pun melonjak menjadi 15.473 entitas, dari hanya 5.053 pada 2024. “Melihat area-area itu, kami mengantisipasi dengan tadi membuka untuk pasar renminbi dan juga untuk pasar yuan di domestik. Kita berharap stabilitas rupiahnya juga akan bisa kita jaga,” tuturnya.
Sumber : Kompas.com
