SMARTPEKANBARU.COM – Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan melaksanakan program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Saat ini program yang pertama kali dimulai sejak 10 Februari 2025 sudah menjangkau 50,5 juta orang dari seluruh wilayah Indonesia. Rinciannya, sebanyak 34,3 juta kehadiran dari CKG umum dan 16,2 juta CKG sekolah. Program andalan
Presiden Prabowo Subianto ini, dari 53,6 juta pendaftar, sebanyak 50,5 juta orang mengikuti pemeriksaan Kesehatan.
Selama program tersebut berlangsung ada fakta yang mencengangkan ditemukan. Hingga akhir Oktober 2025 pada kelompok dewasa, hampir seluruh peserta masuk kategori kurang aktivitas fisik alias ‘mager’ (96 persen), disusul karies gigi (41,9 persen), obesitas sentral (32,9 persen), overweight dan obesitas (24,4 persen).
Temuan ini mengkonfirmasi bahwa penyakit tidak menular masih menjadi ancaman utama bagi kelompok produktif.
“Data CKG memberi peringatan serius bahwa aktivitas fisik dan pola hidup sehat harus semakin menjadi prioritas bersama,” ujar Menteri Kesehatan (Menkes RI) Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Rabu(5/11/2025).
Sementara potret kesehatan pada kelompok usia lain adalah pada bayi baru lahir ditemukan risiko kelainan saluran empedu (18,6 persen), berat badan lahir rendah (6,1 persen), dan penyakit jantung bawaan kritis (5,5 persen). Pada balita dan anak prasekolah, masalah gigi tidak sehat (31,5 persen), stunting (5,3 persen), dan wasting (3,8 persen) masih mendominasi.
Sementara di kalangan remaja dan pelajar, ditemukan aktivitas fisik kurang (60,1 persen), karies gigi (50,3 persen), dan anemia (27,2 persen) menunjukkan pola hidup tidak aktif sudah terbentuk sejak usia muda.
Pada kelompok lansia pun tak luput dari perhatian. Sebanyak 96,7 persen tercatat kurang aktivitas fisik dan 37,7 persen mengalami hipertensi.
“Program ini bukan hanya soal jumlah peserta, tapi bagaimana hasilnya kami gunakan untuk memperkuat kebijakan, pelayanan kesehatan, dan intervensi di masyarakat,” tambah Budi.
Budi menambahkan, hasil CKG akan digunakan untuk memperkuat kebijakan kesehatan dan promosi gaya hidup sehat di masa mendatang.
Pelaksanaan CKG tidak lepas dari kolaborasi tenaga medis, tenaga kesehatan, serta dukungan puskesmas dan pemerintah daerah di seluruh Indonesia.
Ia menegaskan CKG bukan sekadar pemeriksaan massal, tetapi semakin dini penyakit ditangani dan diobati maka peluang sembuh menjadi lebih baik sehingga seseorang akan terhindar dari penyakit katastropik dan kecacatan bahkan kematian.
Sumber : Tribunnews.com
