SMARTPEKANBARU.COM — Perjalanan seorang perempuan dalam membangun usaha sering kali penuh tantangan, terutama di tengah kondisi krisis. Hal itulah yang dialami Miche Sari Dewi, SE, owner Mische Aesthetic Clinic yang berlokasi di Jalan KH. Ahmad Dahlan No. 80, Sukajadi, Pekanbaru. Klinik kecantikan tersebut lahir dari perjuangan panjang, pengalaman personal, serta keteguhan seorang perempuan yang tidak menyerah pada keadaan.
Miche Sari Dewi mengawali kisahnya bukan sebagai pengusaha besar, melainkan sebagai perempuan muda yang pernah diliputi rasa minder akibat masalah jerawat yang parah. Kondisi tersebut sempat memengaruhi kepercayaan dirinya secara drastis, bahkan membuatnya beberapa kali memilih bolos kuliah karena merasa tidak siap bertemu banyak orang.
“Saya pernah berada di titik paling tidak percaya diri. Jerawat membuat saya merasa rendah diri, sampai-sampai saya menghindari lingkungan kampus. Dari situ saya paham, masalah kulit bukan hal sepele bagi perempuan,” ungkap Miche.
Pengalaman tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya. Miche mulai mempelajari dunia perawatan kulit secara serius, tidak hanya untuk menyembuhkan dirinya sendiri, tetapi juga agar bisa membantu perempuan lain yang mengalami hal serupa. Namun, perjalanan membangun usaha tidak berjalan mulus, terlebih saat pandemi Covid-19 melanda.
Di tengah keterbatasan modal, pembatasan aktivitas, dan ketidakpastian ekonomi, Miche memberanikan diri merintis Mische Aesthetic Clinic. Ia mengaku harus berjuang keras, mulai dari mengatur keuangan dengan sangat ketat, meyakinkan klien, hingga membangun kepercayaan di tengah situasi yang serba sulit.
“Membangun klinik ini di masa Covid-19 benar-benar menguras tenaga dan mental. Tapi saya percaya, perempuan harus berani berdiri dan berjuang, bahkan ketika keadaan tidak ideal,” ujarnya.
Kini, Mische Aesthetic Clinic berkembang menjadi salah satu klinik kecantikan yang dikenal di Pekanbaru. Tidak hanya menawarkan perawatan kulit, klinik ini juga membawa misi pemberdayaan perempuan, khususnya dalam membangun rasa percaya diri dan keberanian untuk bangkit dari pengalaman buruk.
Miche berharap kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi perempuan lain agar tidak takut memulai, meski berasal dari keterbatasan dan pengalaman pahit.
“Kalau saya bisa bangkit dari rasa minder dan keterpurukan, perempuan lain juga pasti bisa. Jangan biarkan keadaan atau penilaian orang lain menghentikan langkah kita,” tutup Miche
penulis ; iwan antonius
