SMARTPEKANBARU.COM- Menjalani ibadah puasa Ramadan tidak hanya menjadi momentum melatih kesabaran, tetapi juga membawa perubahan signifikan pada kondisi fisiologis tubuh, terutama kesehatan area rongga mulut. Selama belasan jam menahan lapar dan dahaga, aktivitas mengunyah yang terhenti menyebabkan produksi saliva atau air liur menurun drastis. Padahal, saliva memiliki peran krusial sebagai agen pembersih alami (self-cleansing) yang bertugas menjaga keseimbangan tingkat keasaman (pH) mulut agar bakteri tidak berkembang biak secara tidak terkendali.
Periset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), drg. Lelly Andayasari, M.Kes, menjelaskan bahwa kondisi mulut yang mengering akibat berkurangnya air liur menjadi pemicu utama munculnya bau mulut atau halitosis. Dalam keadaan normal, saliva berfungsi membilas sisa makanan dan menekan pertumbuhan mikroorganisme. Namun, saat berpuasa, bakteri menjadi lebih aktif memproduksi senyawa berbau tidak sedap, yang seringkali diperparah oleh pola konsumsi makanan tinggi gula saat sahur maupun berbuka tanpa diimbangi kebersihan yang terjaga.
Guna menjaga kenyamanan selama beribadah, drg. Lelly menekankan pentingnya manajemen waktu menyikat gigi yang tepat, yakni sesudah sahur dan sebelum tidur malam. Penggunaan pasta gigi yang mengandung fluoride sangat disarankan untuk memperkuat lapisan enamel gigi. Selain itu, masyarakat diimbau untuk membatasi konsumsi makanan beraroma tajam seperti bawang mentah atau petai saat sahur agar tidak memicu aroma kurang sedap yang bertahan sepanjang hari di dalam rongga mulut.
Aspek nutrisi juga memegang peranan penting dalam stimulasi produksi air liur secara alami selama berpuasa. Mengonsumsi sayur dan buah yang kaya serat sangat dianjurkan karena teksturnya mampu membantu membersihkan permukaan gigi sekaligus merangsang kelenjar ludah. Selain itu, kecukupan hidrasi air putih antara waktu berbuka hingga sahur harus tetap dipenuhi guna memastikan tubuh tetap optimal dalam memproduksi saliva meskipun sedang dalam keadaan berpuasa di siang hari.
Terkait prosedur medis, masih banyak masyarakat yang merasa ragu untuk mengunjungi dokter gigi selama bulan Ramadan karena khawatir ibadahnya batal. Padahal, secara medis dan syariat, berbagai tindakan perawatan gigi tetap aman dilakukan asalkan tidak ada cairan yang tertelan secara sengaja. Prosedur rutin seperti pemeriksaan berkala, pembersihan karang gigi (scaling), penambalan, hingga kontrol behel tetap bisa dijalankan agar masalah kesehatan gigi tidak menumpuk dan memburuk di kemudian hari.
Menjaga kesehatan gigi dan mulut selama bulan suci merupakan bagian integral dari menjaga kebugaran tubuh secara menyeluruh. Dengan menerapkan pola kebersihan yang disiplin dan memilih asupan yang tepat, setiap individu dapat menjalani ibadah puasa dengan lebih percaya diri tanpa gangguan bau mulut. Kesadaran akan kesehatan dental ini diharapkan dapat membantu umat Muslim meraih kenyamanan maksimal dalam berinteraksi sosial sekaligus menjalankan rangkaian ibadah Ramadan dengan sempurna.
Sumber : Tribun
