SMARTPEKANBARU.COM — Selama menjalankan ibadah puasa, perhatian masyarakat umumnya tertuju pada pemenuhan hidrasi untuk mencegah dehidrasi. Namun, para pakar kesehatan mengingatkan adanya risiko metabolik yang sering terabaikan, yakni pola konsumsi buah dan pemanis saat sahur dan berbuka yang berdampak langsung pada kesehatan fungsi ginjal.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal-Hipertensi, dr. Dina Nilasari, Ph.D, Sp.PD, KGH, menyoroti kekeliruan persepsi mengenai konsumsi jus buah tanpa gula. Beliau menjelaskan bahwa proses ekstraksi buah yang membuang serat justru mengubah sari buah menjadi asupan gula murni yang berbahaya jika dikonsumsi berlebih. “Iya, karena yang hanya airnya saja itu juga gula. Itu sama aja kita minum gula,” papar dr. Dina dalam agenda edukasi media.
Secara fisiologis, serat pada buah berfungsi krusial untuk memperlambat laju penyerapan glukosa ke dalam sistem peredaran darah. Tanpa adanya ampas atau serat, gula alami (fruktosa) akan terserap secara instan, memicu lonjakan gula darah yang membebani kinerja metabolik tubuh. Oleh karena itu, konsumsi buah dalam bentuk utuh jauh lebih direkomendasikan. “Makanya lebih bagus makan buah utuh daripada minum jus yang sudah dihilangkan ampasnya,” tegasnya.
Terkait konsumsi makanan pendamping populer seperti kurma dan madu, dr. Dina mengingatkan bahwa predikat “alami” bukan berarti bebas dikonsumsi tanpa kendali porsi. Walaupun kurma dan madu memiliki nilai nutrisi lebih baik daripada gula rafinasi, keduanya tetap merupakan sumber glukosa. Moderasi asupan tetap menjadi syarat mutlak guna menjaga stabilitas kadar gula darah, terutama saat tubuh sedang beradaptasi dengan pola makan puasa.
Selain itu, dalam hal pemilihan pemanis alternatif, dr. Dina mengategorikan pemanis alami seperti stevia dalam zona aman untuk konsumsi wajar. Namun, beliau memberikan catatan kritis terhadap penggunaan pemanis sintetis tertentu. “Yang tidak oke adalah yang gula buatan seperti sakarin, itu dianggap penelitian bisa menyebabkan kanker. Jadi mungkin kita harus hindari itu,” lanjutnya.
Sebagai kesimpulan bagi masyarakat, menjaga kesehatan ginjal bukan sekadar tentang kuantitas asupan cairan, melainkan tentang kecerdasan dalam memilih dan mengolah nutrisi. Dengan memprioritaskan buah utuh, membatasi pemanis tambahan, serta menghindari zat aditif sintetis seperti sakarin, fungsi ginjal diharapkan tetap terjaga optimal di tengah tantangan metabolik selama bulan Ramadan.
Sumber : Tribun
