SMARTPEKANBARU.COM – Di balik gejala ruam merah yang tampak sederhana, penyakit campak menyimpan ancaman komplikasi serius yang berpotensi merusak sistem kekebalan tubuh dalam jangka panjang. Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.IPT (K), selaku Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat, mengingatkan bahwa dampak campak melampaui sekadar demam tinggi dan bintik merah pada kulit.
Dalam sesi taklimat media secara virtual pada Sabtu (28/2/2026), Prof. Anggraini menyoroti pneumonia sebagai penyebab kematian tertinggi pada pasien campak. Berdasarkan data klinis, sekitar 86 persen kasus kematian akibat campak dipicu oleh komplikasi infeksi paru-paru atau pneumonia tersebut. Kondisi ini diperparah dengan munculnya risiko anak menjadi lebih rentan sakit pasca-infeksi.
Fenomena medis yang patut diwaspadai adalah immunological amnesia atau amnesia sistem imun. Kondisi ini menyebabkan tubuh kehilangan memori terhadap berbagai penyakit yang sebelumnya sudah dikenali oleh sistem pertahanan tubuh. Akibatnya, anak yang pernah terinfeksi campak akan memiliki daya tahan tubuh yang lemah dan jauh lebih rentan terhadap infeksi kuman lain selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun ke depan.
Selain pneumonia, campak juga dapat memicu berbagai komplikasi berat lainnya seperti diare akut, infeksi telinga yang berisiko menyebabkan gangguan pendengaran permanen, hingga kerusakan saraf. Salah satu risiko yang paling mematikan adalah Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE), sebuah penyakit degeneratif otak progresif yang bersifat fatal akibat menetapnya virus campak di dalam tubuh.
Yang mengkhawatirkan, dampak SSPE tidak langsung terlihat saat anak terinfeksi, melainkan dapat muncul sebagai bom waktu hingga 23 tahun kemudian. Mengingat sifat virus ini yang menular melalui udara (airborne), satu pasien positif campak secara statistik mampu menularkan virus kepada 18 orang lainnya. Virus tersebut bahkan dilaporkan dapat bertahan melayang di udara selama lebih dari dua jam.
Melihat fakta medis tersebut, campak jelas bukan merupakan penyakit ringan yang bisa disepelekan, terutama bagi anak-anak dengan kondisi gizi buruk atau yang belum mendapatkan imunisasi lengkap. Kesadaran kolektif dari orang tua untuk memahami bahaya laten campak menjadi kunci utama dalam melindungi generasi masa depan dari dampak kesehatan yang fatal.
Sumber : Tribun
