SMARTPEKANBARU.COM — Pemerintah Provinsi Riau melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) mengambil langkah cepat dalam mengantisipasi ancaman Virus Nipah. Langkah ini merupakan respons langsung terhadap instruksi Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan terkait peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap risiko zoonosis berbahaya tersebut di wilayah Riau.
Kepala Dinas PKH Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir, menegaskan bahwa penguatan sistem laboratorium dan pengawasan lalu lintas hewan menjadi prioritas utama. “Kami tidak ingin lengah. Kewaspadaan harus diperkuat sejak dini, mulai dari penguatan sistem laboratorium hingga pengawasan ketat terhadap mobilitas hewan ternak serta produk turunannya. Semua lini harus dalam posisi siap,” tegas Mimi, Minggu (1/3/2026).
Dalam rapat mitigasi internal, Dinas PKH Riau telah mengidentifikasi sejumlah titik krusial yang berpotensi menjadi jalur masuk virus, terutama melalui pergerakan ternak dan interaksi dengan satwa liar. Pemetaan wilayah rawan serta peningkatan kapasitas deteksi dini melalui laboratorium veteriner terus dioptimalkan guna memastikan setiap ancaman dapat terdeteksi secara real-time.
Selain langkah teknis, Mimi juga menekankan pentingnya pendekatan One Health, yaitu kolaborasi lintas sektor antara kesehatan hewan dan kesehatan manusia. Mengingat Virus Nipah adalah penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia, koordinasi dengan instansi kesehatan dan otoritas terkait lainnya menjadi kunci efektivitas deteksi dini di lapangan.
Kepada para pelaku usaha peternakan, Dinas PKH mengimbau untuk memperketat biosekuriti di area kandang. Peternak diminta membatasi kontak ternak dengan satwa liar, khususnya kelelawar buah, serta segera melaporkan kepada petugas jika ditemukan gejala klinis yang tidak wajar pada hewan ternak. “Peran aktif peternak dalam pelaporan dini sangat menentukan kecepatan penanganan di lapangan,” tambahnya.
Virus Nipah sendiri merupakan patogen dari famili Paramyxoviridae yang memiliki tingkat fatalitas sangat tinggi, berkisar antara 40% hingga 75%. Infeksi ini dapat menyebabkan gangguan pernapasan akut hingga peradangan otak (ensefalitis) yang mematikan. Hingga saat ini, belum ada vaksin atau pengobatan spesifik, sehingga langkah pencegahan dan deteksi dini menjadi satu-satunya perlindungan utama bagi masyarakat.
Sumber Tribun Pekanbaru
