SMARTPEKANBARU.COM – Badan Pusat Statistik mengingatkan pemerintah daerah untuk mewaspadai potensi inflasi pasca Lebaran 2026.
Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi yang digelar secara daring, Senin (20/4/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan histori empat tahun terakhir, inflasi setelah Lebaran cenderung lebih rendah dibandingkan periode Ramadan hingga Lebaran, kecuali pada 2022 karena momen Lebaran jatuh di awal bulan.
“Pada April 2025 bertepatan dengan pasca lebaran, inflasi pada April 2005 disumbang oleh kelompok perumahan, air listrik dan bahan bakar rumah tangga. Penyesuaian tarif listrik kembali normal, kelompok makanan minuman dan tembakau serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Inflasi pasca lebaran ini perlu diantisipasi,” katanya.
Meski demikian, kelompok makanan, minuman, dan tembakau tetap menjadi penyumbang utama inflasi pasca Lebaran, meskipun sempat terjadi deflasi pada Mei 2024.
Ateng juga memaparkan sejumlah komoditas yang kerap memicu inflasi dalam beberapa tahun terakhir, di antaranya bawang merah, cabai merah, telur ayam ras, dan bawang putih.
“Pada momen pasca lebaran, komoditas yang sering muncul sebagai penyumbang inflasi tertinggi adalah bawang merah, cabai merah, telur ayam ras dan bawang putih, sedangkan komoditas yang sering muncul sebagai penyumbang deflasi terdalam adalah daging ayam ras,” ucap dia.
Selain itu, beberapa komoditas seperti daging ayam ras, beras, dan angkutan udara juga tercatat pernah menjadi penyumbang deflasi pada periode tertentu.
BPS menegaskan, pengendalian harga komoditas strategis perlu menjadi perhatian utama pemerintah daerah agar tidak terjadi lonjakan inflasi yang dapat memengaruhi daya beli masyarakat pasca Lebaran.
Sumber: Media Center Riau
