SMARTPEKANBARU.COM – Potensi kenaikan harga energi global kembali menjadi perhatian di tengah kondisi geopolitik yang belum stabil serta fluktuasi harga minyak mentah dunia.
Situasi ini berimbas pada meningkatnya kekhawatiran terhadap beban subsidi energi nasional yang berpotensi membengkak jika tren kenaikan harga berlangsung dalam jangka panjang.
Pakar otomotif dari , , menilai pemerintah masih memiliki ruang untuk menahan kenaikan harga BBM, selama harga minyak dunia belum melampaui batas kritis secara berkelanjutan.
Menurutnya, skenario penyesuaian harga kemungkinan baru akan terjadi apabila harga minyak Brent berada di kisaran 120–130 dolar AS per barel dalam periode yang cukup lama.
Jika kondisi tersebut terjadi, beban kompensasi negara berpotensi meningkat drastis hingga ratusan triliun rupiah, mengingat asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih berada pada kisaran moderat.
Tekanan yang berkepanjangan dapat memaksa pemerintah mengambil langkah sulit antara menjaga stabilitas harga energi bagi masyarakat atau mempertahankan kesehatan fiskal negara.
Apabila subsidi terus dipertahankan dalam kondisi harga tinggi, alokasi anggaran untuk sektor lain seperti infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan berisiko terpangkas.
Lebih lanjut, Yannes memperkirakan penyesuaian harga BBM berpotensi dilakukan secara bertahap, dengan pendekatan hati-hati untuk menghindari gejolak di masyarakat.
Ia menyebutkan, kebijakan tersebut kemungkinan mulai dipertimbangkan pada periode Mei hingga Juni 2026.
Di sisi lain, pemerintah juga didorong untuk mempercepat langkah mitigasi melalui transisi energi, termasuk pemanfaatan sumber energi domestik serta pengembangan kendaraan listrik dan hybrid.
Upaya ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil impor yang rentan terhadap fluktuasi harga global.
Pada akhirnya, pergerakan harga minyak dunia tetap menjadi faktor utama dalam menentukan arah kebijakan energi nasional, sehingga pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara perlindungan daya beli masyarakat dan keberlanjutan fiskal.
Sumber: Tribun Pekanbaru
