SMARTPEKANBARU.COM – Provinsi Riau kembali menghadapi tantangan serius terkait bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang tahun 2026. Berdasarkan data terbaru, total luasan lahan yang terbakar di wilayah tersebut telah mencapai 15.220,34 hektare yang tersebar di 12 kabupaten dan kota. Dari keseluruhan angka tersebut, Kabupaten Bengkalis menjadi daerah yang paling mengkhawatirkan dan terdampak paling parah. Wilayah yang dijuluki Negeri Junjungan ini menyumbang lebih dari separuh total kebakaran di Riau, dengan luasan lahan terbakar yang sangat fantastis, yakni mencapai 8.179 hektare.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau, M. Edy Afrizal, mengungkapkan bahwa karakteristik Bengkalis yang memiliki kawasan gambut terluas menjadi pemicu utama tingginya angka kebakaran. Pada musim kemarau, lahan gambut yang mengering menjadi sangat rentan memicu kobaran api. Karakteristik lahan ini juga menyulitkan proses pemadaman karena api dapat menjalar dengan cepat hingga ke lapisan bawah tanah. Selain Bengkalis, Kabupaten Pelalawan menempati posisi kedua dengan tingkat kebakaran yang juga tinggi, yakni seluas 4.533,84 hektare. Jika akumulasi luasan lahan terbakar dari kedua daerah pesisir ini digabungkan, maka Bengkalis dan Pelalawan telah menyumbang sekitar 83 persen dari total karhutla yang terjadi di seluruh Provinsi Riau.
Selain dua wilayah utama tersebut, sebaran karhutla juga melanda sepuluh daerah lainnya dengan rincian luasan yang bervariasi. Wilayah tersebut meliputi Indragiri Hilir seluas 822,77 hektare, Kota Dumai 552,01 hektare, Rokan Hilir 378,03 hektare, Siak 289,15 hektare, Kepulauan Meranti 198,36 hektare, Kampar 82,77 hektare, Indragiri Hulu 72,75 hektare, Kuantan Singingi 55,95 hektare, Pekanbaru 42,15 hektare, dan Rokan Hulu seluas 17,16 hektare. Sepanjang tahun ini, BPBD Riau mencatat telah mendeteksi sebanyak 8.225 hotspot (titik panas), di mana 324 titik di antaranya telah berkembang menjadi fire spot (titik api) yang membutuhkan penanganan langsung secara intensif di lapangan.
Meskipun luasan lahan yang terdampak terus bertambah, pihak berwenang memastikan bahwa kondisi terkini di lapangan sudah jauh lebih terkendali. Saat ini, seluruh titik api aktif di Riau dilaporkan telah berhasil dipadamkan hingga nihil. Keberhasilan penanggulangan ini merupakan hasil dari operasi terpadu yang solid antara BPBD kabupaten/kota, TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta kontribusi aktif dari sejumlah perusahaan di wilayah rawan kebakaran. Selain itu, percepatan pemadaman di area yang sulit dijangkau lewat jalur darat sangat terbantu oleh operasional empat unit helikopter water bombing bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Walaupun situasi saat ini telah kondusif, Pemerintah Provinsi Riau tetap memberlakukan status siaga darurat karhutla. Petugas mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan indikasi kebakaran sekecil apa pun.
Sumber: Tribun Pekanbaru
